Sunday, April 24, 2016

Demam Seminggu

Saya mau sharing demam yang bikin saya kepikiran seminggu kemarin.
demam ini sudah terjadi pada anak kedua (1,5 tahun), keponakan (8 tahun)--yg tinggal di belakang rumah, dan anak pertama saya (6 tahun). 

Gejala yang paling siginifikan adalah demam sekitar 37-39 Celcius. Hal ini berlangsung selama kurang lebih 5 hari. Dengan variasi gejala yang lain, mulai dari mual, pusing, linu di sendi, sampai nafsu makan yang berkurang. Variasi gejala ini berat-ringannya tergantung pada masing-masing anak, misalnya pada anak-anak saya saat sakit mereka memang cenderung jadi susah makan, alhasil setelah kena sakit ini, berat badan mereka lumayan terlihat signifikan pada keseluruhan postur, sedangkan keponakan saya yang doyan makan, hal ini tidak terlalu mempengaruhi nafsu makannya. 

yang pertama kena sakit ini adalah anak kedua saya. tertempa metode RUM yang saya terapkan di anak pertama saya, penanganannya tidak ada yang spesial, selain ikhlas, tenang, parasetamol drop, madu dan VCO. saat itu saya tidak terlalu kepikiran, karena memang sudah beberapa kali Lila demam 3-4 hari, selama demam tidak ada 1 senyumpun yang keluar darinya. Yang bikin saya kepikiran adalah makanan yang dia makan porsinya sangat kecil. Tapi saya selalu menenangkan diri saya bahwa yang penting ada sesuatu yang masuk ke mulutnya. di hari ke-5 keluar semacam bruntusan di kaki/tangannya, tapi tidak terlalu signifikan. lalu setelah itu dia sudah tidak demam lagi, dan sudah bisa tersenyum. 

Pas seminggu kemudian, Lila membaik. Rofi, sepupunya, demam. Orang tuanya langsung membawanya ke RS untuk cek darah dan ketahuan trombositnya menurun, tapi masih dalam kadar normal, dan belum bisa ditegakkan vonisnya--mungkin karena kalau hanya demam 1 hari belum ketahuan sakit apa--batin saya. Pengambilan darah dilakukan setiap pagi, walau di hari kedua ngedrop, tapi di hari ketiga tidak ada penurunan yang signifikan. 
Mertua saya curiga sepertinya Rofi sakit yang sama seperti Lila. dan ternyata betul, di hari ke-6 keluar bruntusan sedikit dan setelahnya dia membaik.
Rofi tidak masuk sekolah selama seminggu. total sakit sekitar 10 hari. 

Langsung dilanjut dengan Fatih, demam. pulang sekolah matanya merah, demamnya 38, mengeluh pusing dan terlihat lemas sekali. sekonyong-konyong tanpa meler/batuk. hal ini berlangsung selama 3 hari berturut-turut dengan variasi muntah diantaranya. 
alhamdulillah Fatih bisa makan lebih banyak drpada adeknya. saya menduga dia sakit yang sama seperti 2 saudaranya. dan ternyata betul di hari ke-6 demamnya turun, kakinya sakit (tidak keluar bruntusan), lalu di hari ke-7 sudah bisa main air dan main bola :)
Fatih ijin sekolah seminggu, total sakit: 6 hari. 

Kalau ditanya, sakit apa anak-anak saya? saya tidak bisa menjawab, karena yang bisa saya lihat hanya gejalanya. dan yang saya obati hanya gejalanya, sirup parasetamol untuk pusing dan demam. 
kenapa ga dibawa ke dokter? karena dokter anak saya, dr.Waldi, adalah dokter dengan metode RUM (rational usage of medicine) sehingga tidak pernah memberikan obat jadi daripada jauh-jauh kesana dan cuma dimarahin karena anaknya gapapa, saya mending belajar juga deh jadi orang tua yang RUM :)

Tipsnya jadi orang tua yang RUM:
1. belajar. ini ga bisa langsung sekali jadi. "kebebalan" yang berlogika ini harus dengan keyakinan dan pengetahuan. tidak semua sakit perlu obat, jadi kenali jenis-jenis sakit pada anak anda. bagaimana pengaruh-nya pada anak. misalnya anak saya kalau demam tidak pernah lebih dari 40 celcius, saya tahu karena setiap demam selalu di ukur dengan termometer 3 kali sehari. apakah dia selalu sakit setiap bulan? kalau diare berapa kali sehari? bagaimana nafsu makannya? siapa orang serumah yang sekiranya sakit yg sama? dll. jika perlu catat semua yang terjadi, jadi besok-besok dia menunjukkan gejala yang serupa, anda tidak perlu panik. 
jikapun kemudian Anda pergi ke dokter, maka anda bisa memberikan informasi yang jelas. 
2. belajar ini ga bisa sendirian. harus dengan dokter yang RUM juga. 
katakanlah dari 15kali saya ketemu dr.Waldi, baru 1 kali anak saya dikasih obat, karena waktu itu sakit semacam campak. obatnyapun harganya dibawah 10rb, betul-betul obat ringan. sisanya? yang cuma diyakinkan (dengan nada sinis) bahwa anak saya baik-baik saja dan saya suruh bayar 150rb. 
dokter Waldi juga model dokter yang suka bertanya dengan detail, jadi catatan di poin 1 akan sangat berguna untuk menjawab pertanyaannya. 
Jadi saat  kami kesana, saya catat semua apa yang dikatakan dokter. anggap saja lagi kuliah kedokteran gratis, sehingga impas uang yang saya keluarkan (cegluk!).

kalau udah tahu RUM kenapa masih ke dokter? 
nah, namanya juga orang tua, rasa kasian dan khawatir  itu ga bisa di hilangkan. jadi saya baru ke dokter, kalau misalnya demam sudah lebih dari 4 hari (ini juga katanya gapapa), jika batuk lebih dari 2 minggu (ini gapapa, tunggu aja katanya. anaknya disuruh cuti sekolah lebih lama) dan diare lebih dari 3 hari (ini juga gapapa, asalkan di fesesnya ga ada darah). 
jika nafsu makan membaik dari hari perharinya juga indikasi bahwa kesehatannya membaik. 
yuk belajar jd orang tua yang RUM :)