Semalam, kami saling berbicara
Aku menyebutnya “Ngobrol yang bisa dibicarakan dengan kamu”
Dimulai dari jam 10:00pm sampai 00:30am.....
To be honest ditengah pembicaraan itu aku sempat terkantuk2 dan sedetik kemudian aku jatuh tertidur, tapi aku harus bangun, karena aku tahu pembicaraan macam ini, hanya berlangsung beberapa kali saja dalam hidup ...
Dan aku beruntung bisa mengalami pembicaraan ini.
Disadari oleh kedua belah pihak, bahwa aku sulit berkonsentrasi.
Maka kami sepakat bahwa konsentrasi harus diusahakan, (pweeh...itu artinya aku HARUS rajin mencatat semuanya, tak bisa hanya bersandar pada kemampuan kepala ini).
Inisiative dan kreativitas adalah hal yang penting. Kreativitas didapatkan dari kemampuan dan wawasan pengetahuan yang akan membantu kita menghubungkan hal2 untuk jadi satu gagasan baru. Utk kami yang bekerja di dunia yang menjual ide kreativitas, hal ini mesti PR no.1 ya iyalah...kalo gak punya ide, trus mau jual apap?
Carilah motivasi utk diri kita masing2, apalagi dalam rangka kita sebagai manusia—khalifah, utk berbuat yang sebaik2nya utk kepentingan sebesar2nya (tuuh..sangar bgt kan tugas kita?)
Eh, ini serius lhoh..soalnya selama ini kita kan beruntung bgt, coba renungkan:
- Alhamdulillah kita punya iman, sehingga kita nggak gelisah. Begitu banyak orang yang gelisah, dan akhirnya malah melampiaskannya pada hal2 yang “nggak banget”, trus yang nggak kalah penting adalah kebebasan kita untuk beribadah. Kapan aja dimana aja, cuman emang kitanya aja yang ndableg, jadinya sering bgt bolong dengan begityu banyak ke-permisifan.
- sedari kecil sampai sekarang, kita mendapatkan pendidikan yang cukup. (apakah kita sudah mengamalkannya? Sebaiknya jangan nambah dulu sebelum bisa mengamalkan, begitu kata teman saya)
- sedari janin, kita juga Alhamdulillah nggak pernah susah, sudah diberikan segala yang terbaik oleh orang tua kita. (ketika kita merasa nggak cocok dengan pemberian orang tua, itu hal yang lain lagi ya dear... ;)
nah, kesemua itu wajib kita kembalikan ke masyarakat, memberikan banyak karena selama ini kita juga sudah mendapat banyak. Kesemuanya ini dalam rangka bersyukur, dan nggak hanya dalam rangka usaha mencari nafkah.
Nah ketika ini menjadi tujuan, Bagaimanakah Caranya??
Trus, masih dalam framing we as a human, Jangan sekali-kali menunjukkan sikap yang sok2an, mulai dari pemilihan kata, intonasi dsb, karena apa? Karena kita nggak pantes utk nerima itu semua, kita tuuh pancen goblog!!!
(janganlah merasa kecil hati, utk hal ini...renungkan dulu deh... hal ini emang bener kan? Soalnya kalo dipikir2, sepinter2nya manusia pinter, kita tuh emang bukan siapa2. ketika memikirkan soal ini, langsung berkelibat dalam kepalaku bahkan manusia yang sepintar DaVinci-pun ternyata gay!—FYI, aku begitu mengaggumi beliau terutama setelah membaca buku “Menjadi Pintar Seperti DaVinci”, tetapi memang manusia nggak ada yg sempurna...hffff...)
Nah, oleh karenanya kita wajib utk terus menggenjot pengetahuan utk membantu menghubungkan titik ide dalam takaran yang disesuaikan dengan masing2 orang.
Trus, kami juga membahas soal inisiatif dan keberanian mental. Gak usah perduli omongan orang lain, asal kita sendiri selalu mengusahakan bentuk2 yang terbaik.
(nah, utk yang ini sungguh aku masih sulit utk mengaplikasikannya, walau sudah hidup di Jakarta setahun—which i consider hidup disini tuh, mesti tahan banting salah satunya dengan cara ngomong orang2nya yang setajam silet!—aku masih uznudzon bahwa mereka nggak tahu cara ngomong yang lain)
Dan selama ini aku memutuskan melakukan banyak hal salah satu pertimbangannya biasanya karena masalah mudah/susah nii bakalan?? Ternyata itu semuanya kayaknya salah deh, soalnya kita seharusnya , melakukan semuanya karena HARUS, bukan masalah mudah/susah. Karena itu artinya kita akan melakukan semuanya, karena semuanya pasti mendatangkan pelajaran, dan pelajaran itu akan datang karena kita tidak memandang remeh hal ini sebelumnya—dengan memandang mudah masalah ini and at the end hal ini akan memajukan kita (haduuh..agak muter2nya bahasanya? Semoga anda nggak pusing bacanya).
“Surgapun tidak memberi janji”..
2 comments:
sedari kecil sampai sekarang, kita mendapatkan pendidikan yang cukup. (apakah kita sudah mengamalkannya? Sebaiknya jangan nambah dulu sebelum bisa mengamalkan, begitu kata teman saya)
Ada dua tafsir yang bisa saya tangkap dari kalimat diatas tadi. terutama pada kata 'nambah' yang saya cetak tebal.
Tafsir yang pertama adalah 'nambah' dalam artian melanjutkan sekolah, dan yang kedua adalah 'nambah' dalam arti menambah wawasan dan khazanah pengetahuan.
Baik, saya akan memberikan sebuah cerita dan pertanyaan kpd anda. Pertanyaan ini mudah kok...
Jika ada seseorang yang lulusan sarjana, kemudian pilihan hidup membawanya kepada lingkungan kerja yang sama sekali berbeda latar pendidikannya dengan yang selama ini dia tekuni, apa iya, dia harus mengamalkan ilmu yang sudah dia dapatkan itu untuk sebuah lingkungan kerja yang sama sekali berbeda? bukankah lebih baik jika dia 'nambah' seperti kedua tafsir yang saya tangkap tadi?
Sebuah prinsip memang dibutuhkan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Tapi tidak seharusnya prinsip itu menyempitkan pola pikir kita bukan ? :-)
hidup ini kan nggak cuman kerja doang. sebagai khalifah ada tugas besar yang harus kita lakukan.
menurut KBBI, khalifah itu berarti: penguasa/pengelola di muka bumi.
menurut hemat saya, tugas pengelola adalah memikirkan seluruh yang terjadi di muka bumi, bukan hanya memikirkan diri sendiri.
kita memang harus selalu membanjiri diri dengan ilmu (tututlah ilmu sampai negeri Cina--kata Rasul)tapi jangan lupa pengetahuan yang kita punya, idealnya selalu di evaluasi apakah sudah berguna dalam konteks sebagai pengelola muka bumi atau belum?
Post a Comment