Tuesday, September 18, 2007

Malang


weekend kemarin,saya pergi ke malang. it was business trip actually, but since this is my first business trip. i am so excited.

saya berangkat dari Jakarta di hari jumat subuh, berangkat menggunakan Sriwijaya Air jam 715. ternyata menaiki pesawat ini tak semenakutkan yang saya kira. semua terasa mulus dan seperti biasa pemandangan di atas sana begitu mengagumkan.

sekitar jam 830 saya sampai di Malang. kesan pertama: terik! angin terasa begitu semilir menerpa tetapi sengatan mataharinya begitu panas. melihat jejeran rumah2 yang saya lewati saat menuju ke hotel, mengingatkan saya akan suasana cuaca di kota cirebon. tidak begitu beda memang, mungkin karena masih di pulau jawa kali ya....jadi shock culture nya tidak begitu terasa.

Sengatan mataharinya seakan sudah jam 11 padahal jam baru menunjukkan jam 9nan saat kami berjalan menuju hotel tempat acara kami akan diadakan. inilah yang saya suka setiap datang dari Jakarta ke daerah, waktu berjalan sangat lambaaaaaaaaaaattttt......

Saat tahu saya akan dinas ke Malang, Lelakiku berpesan "jangan lupa mampir ke Hotel Tugu". dan beruntunglah karena hotel tempat saya menginap, bersebelahan dengan hotel Tugu.

Setelah meletakkan tas dan mencuci muka. yang pertama saya lakukan adalah makan! im starving, sepagian diganjal roti2an gak menyurutkan nafsu makan saya. Malang yang terkenal oleh bakso/bakwan Malangnya membuat saya bertekad "saya mau mabuk Bakso disini" :)

lewat referensi resepsionis saya mampir ke Bakso Bakar Pak Man, setelah sebelumnya mampir membeli oleh2 --sebuah penggugur kewajiban yang akan saya bagikan untuk teman2 kantor dan client (yang sudah membayari saya ke sini hehehehe....)

Warung Pak Man, ternyata tak sebesar yang saya kira, berukuran sekitar 3x6 saja, agak sepi, mungkin karena hari sekolah. saya memesan semangkuk (5 butir) bakso bakar dan semangkuk kuah yang berisi tahu isi.

sllruuup...saya cicipi dulu kuahnya, yang yummy...guwrih banget! Trus cicip bakso bakarnya, hmm..pedasnya terasa, perpaduan antara lada dan cabenya plus kecap membuat rasanya pwedas tetapi mwanis pada saat yang bersamaan, seru. Kata seorang teman, orang Malang punya selera pedas pada masakannya, jadi waspadalah untuk anda yang tidak begitu menyukai pedas seperti saya.

Puas menghabiskan butir2 bakso yang nikmat ini saya melajutkan petualangan ke Pasar Besar.karena tidak tahu mesti naik apa dan ingin mencicipi aroma romantisme saya dan teman saya-Betty- memilih naik becak. Becak di Malang berukuran kecil, tapi untunglah masih bisa memuat 2 pantat dua perempuan ini hehehe...

sepanjang jalan, saya makin menyukai Malang...suasananya tenang, khas kota kecil, bersih, banyak bangunan tua yang ditata rapi dan anginnya yang semilir membuat saya sangat menikmati perjalanan nan romantis ini :P

Pasar Besar tak ubahnya seperti pasar2 lain, tak ada diferensiasi karakter. disini saya akan melakukan market visit untuk menyelidiki pergerakan sang brand kompetitor. yang ternyata masih begitu kuat menancap.

Balik kehotel. mendinginkan badan sebentar dan ini lah saat yang saya nanti2kan.

TRIP TO TUGU HOTEL!

sebuah gebyok tua menyambut saya depan lobby. Hotel ini (dan semua resto & hotel milik Pak Anhar-sang pemilik memang terkenal karena koleksi barang&bangunan tua as added value nya). Begitu memasukinya saya langsung tahu bahwa ini adalah sebuah bangunan dengan ambience sejarah yang luar biasa. Penataannya yang terlihat biasa tetapi berefek rancak membuat saya tak henti berdecak kagum. Setelah lobby, masuklah terus ke dalam dan belok kiri maka anda akan menemukan "Tirta Gangga" disini anda akan menemukan sebuah tempat berdoa khas orang2 tionghoa, langkahkan kaki lagi kedalam dan anda melihat ruangan penuh dengan meja dan kursi berwarna biru dan merah terang yang dindingnya dihiasi lukisan2 yang hmm..entah bagaimana saya harus menyebutnya, tidak indah tidak cantik tetapi seakan bermagnet dan membuat anda menatapnya lama dan terhanyut bersamanya...

sesuai dengan pesan lelakiku, "masuki semua gang asal jangan masuki yang tertutup pintu"

Setelah gang Tirta Gangga, gang selanjutnya belum putus dari kekaguman saya, sebuah bangunan tua bagian dari sebuah rumah CIna, bertiang merah dengan huruf2 cina besar dengan guci berisi abu dupa berada tepat di tengahnya yang berhadapan lagsung dengan 2 ruang makan yang saling menyambung. di ujung Ruangan ini terdapat sebuah plakat nama bertuliskan "Oei Tiong Ham"--sebuah nama juragan gula, pria paling kaya di awal abad 20an. Didalam ruang makan tersebut nuansa sejarah Cina dan peranakan Jawa Cina begitu terasa, mulai dari deretan wayang Potehi, foto2--mungkin si sang Oei dan keluarganya-- sampai ke koleksi makan perak yang saya yakin pasti berasal dari jaman doeloe kala..semua begitu menghipnotis, sayang tak ada tour leader. konon ada trip mengelilingi hotel ini lengkap dengan tour leadernya tetapi dengan biaya dollar--yang mana jelas membuat saya tak mungkin memilihnya hehehe..

Bersebelahan dengan ruangan khas Cina tersebut, saya terbawa ke gang berikutnya bernama "sahara, sebuah perjalanan cinta.." gang ini begitu mempesona berupa terowongan tinggi dengan kain2 bernuansa warna ungu dan hijau sebagai pelengkapnya yang berkibar2 diterpa angin.

Diujung terowongan saya menemukan surga kecil, sebuah open air bernuansa surealis, benda2 antik disini tak hanya sebagai penghias tetapi juga berfungsi modern. sebenarnya halaman ini adalah bagian dari sebuah restoran bernama L'amour Fou (diambil dari bahasa Perancis yang berarti Cinta Gila) siapapun saya kira bisa gila karena suasana cinta yang dapat diciptakan disini, bayangkan anda bisa berdansa under the stars surrounded by exotic plam trees. dan lidah anda akan dimanjakan oleh hoomecooking Frech and Italian dishes pwweeehh....belum lagi ditambahkan live band yang menyanyikan lagu2 slow jazz....(khayalan merayakan wedding party disini tiba2 muncul di benak saya;)

Tour dilanjutkan ke lantai 2. Di lantai ini saya baru merasakan bangunan ini sebagai hotel, dikarenakan kamar2nya, spa dan ruang pertemuannya yang tertata "normal" walau lukisan dan benda2 unik banyak menghiasi dinding dan pojok2 ruangannya. Diujung bangunan, tepatnya diatas lobby ada sebuah ruangan Tugu Tea House yang bernuansa jaman kolonial belanda, jika anda menginap disini maka anda bisa mengunjungi tempat ini sebagai complementarynya. bayangkan di sore hari anda Ngeteh di open-air terrace nya ditemani cake2 traditionalnya sambil bergosip, selayaknya noni2 Belanda...hmm lekker..

Puas? tentu belum, walau saya belum bisa menginap di hotel yang mempunyai rate mulai 105-1.000 US$ ini dan merasakan langsung fasilitasnya. Paling tidak ijinkan saya mencicipi kenikmatan salah satu anak bisnis jaringan tugu hotel ini di Und Corner.

Sebuah toko roti&ice cream dengan sentuhan tradisional. Promisenya sebagai home made Italian ice cream memang nggak bohong. Rasa lemak susunya terrrasaaa banget, saat saya memilih es cream chocolate chip plus tomorokashi (perkedel jagung dengan olahan ala Jepang) dan teman saya memilih rum raisin dan apple strudle yang sooo yummy untuk menghabiskan sore kami yang seolah2 berjalan sangat lambat. Jam baru menunjukkan pukul 14.30, tapi rasanya seperti jam 4 sore, nyaman sekali. Suasana sore itu begitu sempurna. Pegawai yang diperintahkan menyiramkan air ke halaman setiap sore, membuat bau tanah meruap nikmat dan menjadikannya sebagai aroma alami di area ini. Walau teras ini berada dekat dengan jalur lalu lintas tetapi asap dan lalu lalangnya kendaraan sama sekali tidak mengganggu kami. Beda sekali dibandingkan jika kita nongkrong di pinggir Selokan Mataram Yogya atau bahkan di Starbuck Plaza Senayan Jkarta sekalipun. Ditambah dengan suara petugas yang sedang menyapu halaman dengan sapu lidi besar, srek...srek..srek... suaranya nikmat sekali. Bahasa manusia2 yang berinteraksi dengan logat Jawa timurnya terdengar familiar &membuatku kangen rumah. Rasanya begitu tenang, waktu berjalan sangaaat lambat dan angin menyerbak ringan...hmm, rasanya tenang bgt :)

Selepas maghrib setelah sedikit beberes kerjaan. saya melanjutkan misi Mabuk Bakso saya. Kami melangkahkan kaki ke stasiun dan tak jauh dari sana sebuah warung Bakso seakan memanggil2 nafsu kami. Bakso stasiun namanya, yang jual Pak dulman. Saya semakin yakin para penjual bakso di Malang ini kayaknya namanya wajib mangandung unsur Man. sehingga semua warung bisa mengklaim warungnya bernama warung bakso Pak Man. jadi jika anda main ke malang dan direkomendasikan sebuah warung bernama warung bakso Pak Man, pastikan anda juga tahu alamatnya biar gak nyasar dan sok yakin bahwa itu adalah warung yang direkomendasikan teman anda hehehe...

Disini saya memesan semangkuk bakso dan segelas kelapa muda. Slruup..hmm kuahnya enak sip! cicipan selanjutnya bakso, terus terang saya agak kecewa dengan baksonya karena spertinya komposisi banyaknya tepung malah membuat bakso ini terasa empuk. jadi berasa kurang mantaB! belum lagi dengan es kelapa mudanya yang mengandung kelapa, karena si kelapa cuma mengapung-ngapung, hiks...sedikit banget....bahkan rekomendasi orang asli malangpun masih belum OK.


malam itu saya habiskan dengan membereskan persiapan event dan keesokan harinya Alhamdulillah, event berjalan lancar dan balik ke Jakarta!sambil radang tengorokkan

*this trip was brought to you by: ABC dan tabloid SAJI.

1 comment:

arirex said...

menyenangkan sekali tripmu...