Friday, June 06, 2008

lamunan

Tadi malam pulang jam 12. Dalam keadaan sama sekali lupa bahwa berada di jalanan jam 12 malam di kursi belakang taksi, berkendara dari ujung Jakarta ke ujung yg lain, adalah hal yang patut dikhawatirkan. Sesampainya di kost, rasanya badan yang mulai merenta ini meminta tidur saja. Tetapi saya tetap memaksakan diri membasuh muka, menggosok badan, dan sedikit membersihkan badan yang seharian membantu otakku bekerja. Jakarta masih dingin, hujan sesorean… Terbangun dengan panic, kukira sudah jam 745, ternyata masih jam 645. Ah, mata ini memang sudah mulai bertambah cacat. Melalui hari dengan kerusuhan yang sama, untunglah malam ini bisa pulang cepat. Karena rasanya badan ini sudah mulai minta utk segera direbahkan. Setelah menggoreng tofu, memasak nasi dan memakannya dengan lahap sambil melewatkan tayangan Mamamia. Hehe, another tayangan at-least-not-sinetron”. Iseng2 menyalakan laptop, menyediakan diri di bursa maya, berkunjung ke blog2 favorit. Memasukkannya dalam catatan-buku. Dan menikmati keberagaman ide teman tersayang. Sambil menikmati alunan dari abang John Mayer, Michael Buble dan Jamie Cullum berdendang. Sayang, suara saya sumbang… Lalu lamunan saya melayang… Minggu pagi yang lalu, salah satu adik ipar mama saya meninggal. Jantung. Saya shock. Karena setahu saya, almarhum tidak menunjukkan gejala apapun yang menunjukkan tanda2 sakit tertentu. Setelah shock saya reda, saya baru bisa berpikir tentang anak2 almarhum yang masih kecil (8&13 thn). Siapa yang akan mengurus mereka? Lalu malam ini, setelah 2 malam berlalu. Saya baru bisa ‘melihat’ kembali ke belakang. Allah memang sang Maha Pemberi yang Terbaik. Dulu (alhamdulillah sekarang sudah tidak) bertahun-tahun lamanya om saya menganggur, banyak usaha yang sudah dia lakukan tak kunjung mempan utk bisa membuatnya mandiri. Ketika dimasa itu, saya juga sempat berpikir, ada apa ini? Kenapa begini? Apakah dia memang sebegitu tidak kompetennya? Barulah di masa ini, terungkap—yang menurut penafsiranku—adalah jawabannya. Dulu, si suami dibuat menganggur dengan imbalan bisa bersama sang istri beratus-ratus hari lamanya, siapa yang mengira bahwa sang istri akan diambil secepat ini? Dulu, si suami dibuat menganggur dengan harapan bisa akrab dengan anak2, karena sekarang dia mesti mengurus anak2 itu sendirian. Masyallah, betapa umur itu adalah rahasia besar Sang Khalik…

No comments: