Jika biasanya aku hanya bisa membuka visitsingapore.com, kali ini aku benar2 bisa visit Singapore! Hahahaha…
Here’s the story…
Day 1.
Alhamdulillah enggak ada masalah yang berarti dengan imigrasi dan ke-pesawatan.
Kecuali saat saya melewati bagian imigrasi, masak pegawenya malah asyik maenan football manager di computer-nya. Ok, I know that his job is one of the most boring job ever. Tp plis deh..bandara adalah salah satu bagian yg paling mudah diakses sekaligus paling merepresentasi sebuah Negara, see?!
Tujuan saya pergi ke Singapore adalah untuk menemani beberapa wartawan yang akan meliput Singapore selama Christmas In the tropics. Kali ini ada SCTV, Kompas, tabloid Nova dan Jawa Pos.
Kali ini saya menumpang Valueair, sebuah alternative (murah) lain, ke Singapore.
Sebagai informasi, ini adalah kali pertama saya ke sini. Mangkanya saya sengaja memilih posisi di dekat jendela.
Saat pesawat mendekat ke daratan, saya melihat banyak sekali kapal besar—kebanyakan tangker, yang merapat ke sebuah tanah gersang. Kapalnya tersebar dengan jumlah yang sangat banyak. Saya belum pernah melihat kapal sebanyak itu sepanjang hidup saya. Belakangan saya tahu, itu adalah kapal2 yang sengaja transit di Singapore, kebanyakan kapal pengangkut minyak—bayangkan, Singapore tidak memiliki setitik minyak sedikitpun, tetapi mampu menarik kapal sebanyak itu! Dan mereka merapat ke port of Singapore, yang saat ini sedang dalam tahap konstruksi besar-besaran, karena akan dijadikan sebagai bagian dari Integrated Resort (IR) sebuah pulau buatan (lagi) yang didalamnya akan ada kasino terbesar, yang saya yakin akan terbesar se asia tenggara.
Tanah pertama bisa saya lihat dengan jelas adalah golf course. Taman kecil dengan tatanan yang sangat teratur, bagai menyerupai miniature yang saya sering lihat di pameran2 property. Sebuah impresi awal yang sangat bagus, buat para new-comer. Saya bertanya2, jika yang di Singapore aja sudah sebagus ini, bagaimana dengan lapangan golf yang ada di bintan ya? Karena konon, lapangan golf Bintan jauh lebih bagus.
Segera setelah landing, kami melaju dalam sebuah van Mercedes. Statement pertama dari tour guide kami, pak Basher, adalah ‘mulai dari bandara sampai dengan suntec city ini, adalah tanah Indonesia!’ saya kaget. Ternyata dulu s’pore tidak seluas ini, untuk meluaskannya dibutuhkan 2 pulau di Indonesia yang dijual oleh seorang anak jendral yang sekarang bertempat tinggal di jalan cik di tiro Jakarta. Hmm..cerita yang sangat tidak menarik ya :(
Eniwei..Kami langsung menuju tempat makan untuk lunch. Kami menuju restoran padang Garuda. Rasanya aneh deh, jauh2 ke singapura malah datang makan di restoran padang. Tetapi restoran ini sepertinya berbeda dengan cabang2 mereka yg ada di Jakarta, lampung &medan. Di sini, gayanya jauh lebih ‘mewah’. Makanannya enak. Di beberapa menu rasa& gayangya sudah di adjust menjadi taste bule.. tp the rest is still padang taste..hmm yummy…
Atraksi pertama yang kami datangi adalah Singapore flyer. Tetapi sebelum itu kami mampir dulu di kenko fish reflexology& spa. Disini kami di refleksi (pijat kaki). Rasanya sakit-sakit enak. Di akhir massage, si mbak pemijatku yang berasal dr Malaysia dengan bahasa yang sumpah enah banget dialeknya, bilang kalo aku perlu banyak minum karena sirkulasinya kurang lancar! Huhuhuhu..ketahuan deee :p
Setelah semua siap, we hop onto Singapore flyer. Ini adalah bianglala terbesar dunia saat ini, karena mulai tahun depan mereka akan membangun di Beijing, dubai dan australi dengan ukuran yang makin membesar dan terus membesar (soo human isn’t?).
Bianglala ini berketinggian 159meter. Sayangnya saat kami naik, langit singapura sedang mendung, padahal konon, disini kamu bisa melihat pulau batam & johor. Di ketinggian ini, saya bisa melihat dengan jelas, tata kota Singapore yang incredibly tertata dan teratur. Bianglala ini berputar 30derajat sehingga more than enough untuk mendengarkan cerita dari tour guide-nya mengenai bangunan2 besar kota s’pore.
Here’s the story…
Day 1.
Alhamdulillah enggak ada masalah yang berarti dengan imigrasi dan ke-pesawatan.
Kecuali saat saya melewati bagian imigrasi, masak pegawenya malah asyik maenan football manager di computer-nya. Ok, I know that his job is one of the most boring job ever. Tp plis deh..bandara adalah salah satu bagian yg paling mudah diakses sekaligus paling merepresentasi sebuah Negara, see?!
Tujuan saya pergi ke Singapore adalah untuk menemani beberapa wartawan yang akan meliput Singapore selama Christmas In the tropics. Kali ini ada SCTV, Kompas, tabloid Nova dan Jawa Pos.
Kali ini saya menumpang Valueair, sebuah alternative (murah) lain, ke Singapore.
Sebagai informasi, ini adalah kali pertama saya ke sini. Mangkanya saya sengaja memilih posisi di dekat jendela.
Saat pesawat mendekat ke daratan, saya melihat banyak sekali kapal besar—kebanyakan tangker, yang merapat ke sebuah tanah gersang. Kapalnya tersebar dengan jumlah yang sangat banyak. Saya belum pernah melihat kapal sebanyak itu sepanjang hidup saya. Belakangan saya tahu, itu adalah kapal2 yang sengaja transit di Singapore, kebanyakan kapal pengangkut minyak—bayangkan, Singapore tidak memiliki setitik minyak sedikitpun, tetapi mampu menarik kapal sebanyak itu! Dan mereka merapat ke port of Singapore, yang saat ini sedang dalam tahap konstruksi besar-besaran, karena akan dijadikan sebagai bagian dari Integrated Resort (IR) sebuah pulau buatan (lagi) yang didalamnya akan ada kasino terbesar, yang saya yakin akan terbesar se asia tenggara.
Tanah pertama bisa saya lihat dengan jelas adalah golf course. Taman kecil dengan tatanan yang sangat teratur, bagai menyerupai miniature yang saya sering lihat di pameran2 property. Sebuah impresi awal yang sangat bagus, buat para new-comer. Saya bertanya2, jika yang di Singapore aja sudah sebagus ini, bagaimana dengan lapangan golf yang ada di bintan ya? Karena konon, lapangan golf Bintan jauh lebih bagus.
Segera setelah landing, kami melaju dalam sebuah van Mercedes. Statement pertama dari tour guide kami, pak Basher, adalah ‘mulai dari bandara sampai dengan suntec city ini, adalah tanah Indonesia!’ saya kaget. Ternyata dulu s’pore tidak seluas ini, untuk meluaskannya dibutuhkan 2 pulau di Indonesia yang dijual oleh seorang anak jendral yang sekarang bertempat tinggal di jalan cik di tiro Jakarta. Hmm..cerita yang sangat tidak menarik ya :(
Eniwei..Kami langsung menuju tempat makan untuk lunch. Kami menuju restoran padang Garuda. Rasanya aneh deh, jauh2 ke singapura malah datang makan di restoran padang. Tetapi restoran ini sepertinya berbeda dengan cabang2 mereka yg ada di Jakarta, lampung &medan. Di sini, gayanya jauh lebih ‘mewah’. Makanannya enak. Di beberapa menu rasa& gayangya sudah di adjust menjadi taste bule.. tp the rest is still padang taste..hmm yummy…
Atraksi pertama yang kami datangi adalah Singapore flyer. Tetapi sebelum itu kami mampir dulu di kenko fish reflexology& spa. Disini kami di refleksi (pijat kaki). Rasanya sakit-sakit enak. Di akhir massage, si mbak pemijatku yang berasal dr Malaysia dengan bahasa yang sumpah enah banget dialeknya, bilang kalo aku perlu banyak minum karena sirkulasinya kurang lancar! Huhuhuhu..ketahuan deee :pSetelah semua siap, we hop onto Singapore flyer. Ini adalah bianglala terbesar dunia saat ini, karena mulai tahun depan mereka akan membangun di Beijing, dubai dan australi dengan ukuran yang makin membesar dan terus membesar (soo human isn’t?).
Bianglala ini berketinggian 159meter. Sayangnya saat kami naik, langit singapura sedang mendung, padahal konon, disini kamu bisa melihat pulau batam & johor. Di ketinggian ini, saya bisa melihat dengan jelas, tata kota Singapore yang incredibly tertata dan teratur. Bianglala ini berputar 30derajat sehingga more than enough untuk mendengarkan cerita dari tour guide-nya mengenai bangunan2 besar kota s’pore.Atraksi kami lanjutkan ke pulau sentosa. Untuk menuju kesana, kami menggunakan cable car yang melintasi pulau singapura ke pulau sentosa. Saya agak takut ketinggian, jadi waktu cable car ini ngelewatin selat s’pore, sumpah rasanya…enggak enjoy blas!
Di pulau sentosa kami diajak menonton sineblast, sinema 4 dimensi. Disini anda tidak hanya digoyang tetapi juga di sembur dengan air saat menonton film yg sangat terasa nyata! Seru bgt!
Atraksi ketiga kami adalah Sentosa Luge, dimana kami naik semacam go-kart tak bermesin yang bisa meluncur dengan cepatnya, asyik!
Setelah itu, kami naik lagi ke sentosa atas dengan menggunakan kereta gantung tak beratap, wuiii ngeri bgt! Kali ini saya berpegangan sangat erat. Sunset yang mulai menurun di pulau sentosa indah terasa, tetapi tangan ini rasanya enggak mau bergerak karena terlalu erat berpegangan…Pulau sentosa ini, tadinya dinamakan pulau mati belakang. Karena para jenazah yang mati dari pembataian akan di buang di sisi belakang pulau ini. Jangan bayangkan horornya, cukup datang ke museum Images of Singapore yang aslinya adalah gedung pemerintah dari jaman penjajahan inggres, dan kamu akan merinding karena hawanya huuuu…
Jalan kaki kami dilanjutkan ke Merlion tower, ngeliat sejarah singapura dalam ruang cinema kecil. Sayangnya, cerita yang di tampilkan bukan lagi sebuah cerita sejarah tetapi menurut saya sudah menjadi legenda, dimana unsur dongeng sudah menempel lekat padanya. Alasannya: pangeran sari nila adalah cucu Alexander the great? Pangeran menyerahkan mahkota ke lautan supaya jalannya lancar dan melihat singapura sebagai binatang pertama kalinya…ugh., terdengar sangat lebay dehhh. Karena waktunya yang udah mepet (gila jadwalnya penuh bgt!) kami segera menghambur ke lantai atas utk melihat s’pore dr atas…(lagi!!).
10 menit kemudian, kami sudah terbirit-birit ke lokasi Song of the Sea. Eh, sampe disana, ternyata pertujukan masih akan berlangsung 45menit lagi. Sambil menunggu, kami terkagum2 dengan tidak adanya nyamuk, dimanapun. Bahkan ditepi pantai seperti ini! pertunjukan ini seperti semacam opera dengan bantuan teknologi laser dan fireworks yang keren, walau jalan ceritanya superduperbiasa…
Malam sudah berlanjut dan kami kelaparan. Sempat mampir ke Jewel Box, fine dining restaurant yang muahal bgt, sambil liat the highest Christmas tree artificial—yang terbuat dari tower operator yang berhiaskan lampu2 natal. Hff…not interesting at all. Kalo kita mau, kita juga bisa bikin tu yg kayak gitu dengan versi lebih kerennya, misalnya, terbuat SUTET kita yang super bwesar itu, trus hias2 deh, dan pastinya bakal jadi the higest tree artificial ever! hehehe
Lapar, lapar, lapar!! Kami segera melaju ke pusat kota, utk makan di McKenzie restaurant .
Disini kami kalap dan memesan Hainan rice, dumpling, dan tumis baby bokcoy. Wahhh, enak bgt! Kenikmatan kami, dilengkapi dengan barley, minuman yang rasanya sama persis kayak air nata de coco. Kami kekenyangan si, tp sumpah enak bgt, mana murah lagi!! Must-visit-restaurant at Singapore.Akhirnya, jam 10.30 waktu Indonesia barat, kami balik ke hotel. Ughhh capek bgt! Mandi, buka laptop dan online deh, ym, facebook dan blogging.
Terbiasa dengan suasana jendela kamar saya yg bising dengan suara adzan, kendaraan, dan teriakan2 para tetangga. Disini saya hampir gak bisa tidur saking sepiiiiii-nya..Pantas saja karena s’pore kekurangan penduduk 2,2 juta! Gimana,tertarik utk pindah kesini?
Day2.
Petualangan kami pagi ini dimulai di Singapore zoo. Kebun binatang yang berada di pinggir kota ini aslinya adalah hutan, yang lalu dimodifikasi sedikit menjadi kebun binatang, mangkanya pohon2nya adalah pohon2 tua dengan kerindangannya yang menakjubkan.
Jadwal pertama, breakfast with Orang Utan. Karena turis yang datang kali ini kabanyakan ras kaukasian, mereka tampak begitu terpesona dengan kelincahan si orang utan yang terampil, membuka durian dan terlihat ramah dengan para turis. Bagi kami para dusun-ers, hal seperti ini pastilah biasa. Tetapi saya boleh angkat jempol dengan cara mereka mengemas segala sesuatu yang kami anggap biasa kita temui di Indonesia dengan lebih indah. Misalnya; Si orang utan di beri nama, di rangkaikan sejarah, sehingga tiap2 turis mengenalnya dan mengingatnya saat kembali ke Negara mereka.
Suguhan kedua adalah pertunjukan Rainforest Straightback, dimana para binatang yang berperan menjadi pemeran figuran, tampil di panggung dengan natural sesuai dengan jalinan cerita yang menceritakan bahwa jika manusia merusak hutan, maka manusialah yng akan menanggung akibatnya… anak2 bgt ceritanya.
Habis itu kami mampir ke giraffe cage. Jerapah adalah binatang yg sering kita lihat, tp jerapah yang saya temui disini benar-benar agresif terhadap wortel! Pengunjung berkesempatan untuk memberi makan si jerapah dengan biaya SGD5 (Rp 42.ooo,-). Setelah membayar, Pengunjung bisa mendapat wortel dan si jerapah akan mendekati anda. Keliatannya si biasa aja. Tp saat salah satu pengunjung bule berteriak kegirangan “it’s so amazing. Really worth to try” saya jadi benar2 penasaran.
Dan voila, hahahahahha…lucu bgt rasanya! Disaat yg sama saya pengen bergaya di depan kamera untuk mengambil pose saya dengan si jerapah. Tp disaat yg lain, aku juga jijik sama ludahnya jerapah yang netes2 saat merebut wortel dari tangan saya..huahuhuaaa, kl bukan karena jaim ada wartawan saya pasti bakal teriak2 kegelian.
Di sini jg ada atraksi baru semacam waterboom gitu. Secara fasilitas, yg di Jakarta enggak kalah seru tetapi secara komposisi warna yg disini jauh lebih colorful.
Saya dan suami pernah berdiskusi soal ini sebelumnya, bahwa mengaplikasikan& memilih warna utk atraksi ternyata bukan hal yg mudah.
Oya, yang saya paling senangi disini adalah saya menemukan kiosk Ben& Jerry Ice Cream! Waaa..saya langsung merangsek ke dalam dan membeli 1 cup rasa brownis coklat. Hmm…rasanya, enak bgt slruup..Atraksi selanjutnya adalah kami diajak naik semacam boat melewati reservoir. Ini adalah danau buatan yang airnya dijadikan air minum utk warga singapura, supaya tidak mencemari airnya, maka perahu yang kami naiki menggunakan tenaga baterai. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi cerita mengenai Singapore zoo dan resevoirnya. Mulai dari sejarah danau, cerita binatang2 yg ada di dalemnya…bla bla bla…
Itulah salah satu kekuatan dalam dunia pariwisata. Tour guide-nya! Disitulah detail impresi yang bisa kita tinggalkan pada kenangan para turis.
Waktunya makaaannnn…
Lagi-lagi kami ke McKenzie. Mungkin saking gandrungnya kita sama rumahmakan itu hehehe…
Sore hari, kami sudah siap dengan baju rapi kami karena kami akan menghadiri pembukaan
upacara Christmas light up. Ini adalah perayaan tahunan singapura untuk menyambut natal. Setiap tahun, singapur akan menghias jalanan seputar Orchad Road dengan lampu2nya yang berwarna warni sesuai dengan tema. Tema utk thn ini adalah “the Sweet Christmas”. Selepas upacara, kami segera menaiki open-top-bus-tour yang mengelilingi orchad dan tanglin road. Seru deh, dengan udara yg bersih rasanya sangat menyenangkan melihat citylight dengan teman semilir angin. Tingkah laku para kameramen dan reporter yang terlihat atraktif, menyolok mata para pejalan kaki dan alhasil kami tampil seperti rombongan sirkus yang diarak keliling kota.Selepas makan angin dan puas mengambil gambar. Kami melanjutkan perjalanan ke tempat makan!!!!
Kali ini kami mencoba makan di pot pouri, sebuah restoran yang menyajikan makanan india utara. Karena ini adalah india utara, maka bumbu2 yg digunakan tidak se spicy india selatan. Sehingga makanan2nya mirip dengan daerah maroko dan timur tengah.
Dengan komposisi pasukan 5 cowok dan 2 cewek, tim kami selalu riuh rendah saat bercengkrama. Banyolan2 selalu segar terasa, pun dengan gosip2 politik yang Cuma bisa didapatkan dari reporter garis depan kepresidenan.
Malam masih berlanjut, meski pegal tapi kami begitu ingin menghabiskan malam. Kami bela2in mampir ke Mustafa center. Sebuah pusat pertokoan di daerah little india. Disini adalah salah satu tempat dimana wisatawan bisa mendapatkan barang2 macam oleh-oleh, elektronik sampai dengan sandang dengan harga yang konon murah. But hey, you pay peanut you got monkey. Di dalam toko itu terasa seperti tanah abang atau carefour versi penuhnya. Saya sendiri si merasa tidak begitu nyaman disana, tp jika anda perlu mencari oleh2 yang bertuliskan “Singapore” maka ini lah salah satu tempat yg bisa anda datangi.
Malam ini benar2 melelahkan….
Day 3.
Dengan pengalaman hari kemarin, hari ini semua bangun tepat waktu. Tetapi tentu, ada saja hal2 yang membuat kami berjalan lebaih lambat dari yg seharusnya…namanya juga mengiringi banyak orang, jadi mesti banyak sabar buuu..
Atraksi pertama di pagi ini adalah: Singapore Science Center. Dengan robot T-rex di depan halamannya, saya langsung berasumsi bahwa ini adalah museum science utk anak2, sama sekali tidak menarik.
Untung saya salah, karena walaupun target market museum ini adalah anak2 usia sekolah, tetapi benar2 seru!
Saya menemukan galeri tipuan mata. Dimana benda2 dan penemuan2 yang dapat menipu visual dipertontonkan. Selain itu ada, mesin pembuat petir, peraga angin tornado, sampai dengan section favorit saya, dimana ada sebuah ruangan yang memperlihatkan sebuah rumah masa depan. Dapur yang biasanya terlihat sesak dengan kulkas dan peranti2nya, kali ini diprediksikan akan tampil dengan clean&chick, kulkas akan dibuat menyatu dengan tembok yang mampu mendisplay secara otomatis “menu hari ini” yang tentu sudah disesuaikan dengan penghuni rumahnya, misal utk si ayah yang mengidap diabetes, anak yang sedang mengalami pertumbuhan, dll.
Selanjutnya ruang keluarga. Jika biasanya kita selalu ribut, saat kita berantem dengan adik/kakak karena akan menonton acara yang berbeda2, maka di ruang keluarga masa depan ini, kita bisa menonton tivi bersama dengan kakak/adik kita dengan program yg berbeda plus suara yg berbeda pula. Singkatnya, beda angle maka beda pula suara dan gambar yang dihasilkan, wuuiihh canggih ya?!
Ada juga si meja ajaib, dimana kita udah gak perlu lagi pake taplak, karena semacam proyektor yang ada diatasnya, akan menciptakan imagi2 yang akan mengellilingi benda tertentu. Misalnya, anda letakkan cangkir diatasnya, maka akan muncul motif bunga2 mengelilingi cangkir tersebut…ck ck ck …
Puas mlonga-mlongo di science center, tim kami melaju ke IKEA! Hahahha..
Dasar ibu2, panic deh kl dah denger nama ini. hm, rasanya nyenengin bgt ngliat furniture2 lucu nan minimalis. Sayang, saya Cuma bisa melihat-lihat mengingat enggak mungkin untuk bawa mebel segaban-gaban pulang ke Indonesia.
Enggak ke Singapore namanya, kalo nggak berfoto di Merlion! Ini baru merlion yang asli. Di fullerton road ini, anda bisa menyaksikan esplanade, Singapore flyer dan merlion bersamaan dalam 1 frame foto anda.
Karena sore ini kami akan terbang pulang, maka kami puas2in deh jalan2nya… setelah lunch di banquet, sebuah foodcourt di dalam Raffles Hospital, Kami mampir ke bugis junction. Sebuah pusat perbelanjaan. Gara2 seorang teman bersikeras, hanya mau membeli oleh2 yg ada tulisan “Singapore”nya (halah!).
Barang2 yg dijual disini, hampir mirip dengan barang2 yg dijual di itc ambassador. Tas2 dan kaos2nya mirip habis! Jadi bagi pelancong muda yg stylish dan bersaku cekak, okelah bertandang kesini. Sebagai perbandingan, sebuah tas yang dijual di ambassador dengan harga sekitar 200rb, bisa kita peroleh dengan harga cukup 80rb aja di sini. Plus, anda bisa mendapatkan oleh-oleh seperti gantungan kunci dan kaos bertuliskan Singapore dengan harga sekitar S$1-5.
Well. It’s wrap. Mari kembali ke Jakarta tercinta dan meninggalkan manisnya singapura :)
14-15nov08 melancong di tengah goncangan ekonomi
2 comments:
Ceritanya menarik nih.., thanks for sharing
Bisa info penginapannya apa..? Rate berapa Sin$, jarak dari orchard jauh atau tidak...?
Thanks infonya
kami menginap di gallery hotel. rate skitar SGD250. di daerah robinson quay--daerah Clark Quay. gak terlalu dekat dengan orchad memang..karena activity kami kebetulan gak fokus di daerah orchard.
semoga membantu.
Post a Comment