Wednesday, February 27, 2008

saya sedih.

entah kenapa bulan ini teman2 kntr banyak yang resign dan pindah kantor, walau saya tidak dekat dengan mereka, walau terkadang sikap mereka menyebalkan, walau saya tak akrab dengan beberapa dari mereka. tapi mereka pindah,mereka meninggalkan surat "this is my last day". dan saya sedih mendengarnya. saya bisa saja bersikap cuek. tapi kenapa mereka pergi dengan berbondong2 dalam waktu yang bersamaan, dan saya sedih karenanya.

bahkan boarding-mate saya pun akan meninggalkan saya. entah sampai kapan.

dulu kami bersama saat di jogja, dia pergi meninggalkan saya untuk berjuang di ibukota, dan saya sedih karenanya. sekarang pengalaman itu terulang kembali. dia meninggalkan saya diujung ruang kos kami yang nyaman. saya kembali sendiri.

saya memang tak terlalu suka berbasa-basi dan lebih cenderung memilih mendekam di kamar tengelam dalam suara ketikan leptop, berkubang halaman buku atau berpetualang di negeri holywood tapi saya lebih benci ketika merasa kesepian. seperti sekarang…

tapi itulah hidup, kamu baru merasakan kehilangan setelah mereka pergi..

muka jerawatan, meja penuh kerjaan, kesepian dan saya kangen mantan..ah, saya jadi mikirin yang bukanbukan! ^_^

Saturday, February 16, 2008

kapan-kapan kawin!

Di usia hidup seperempat hidup seperti saya, sangatlah sering kita mendengar kata2 atau pertanyaan “KAPAN KAWIN?” “KAPAN NYUSUL?”

Dugh! Emang mereka enggak pernah diajarin waktu di sekolah sama guru agamanya, kalo jodoh, mati, rejeki dan lahir itu di tangan yang Maha Pemberi?

Bahwa semuanya akan indah saat waktunya.

Lalu mereka seakan-akan menjugjde bahwa saya tidak berusaha? Halooo!!! Do they know that I’m working something here?

Lalu mereka mengira bahwa saya melupakan step itu. Ya ENGGAK mungkin lah! Setelah bertahun2 pacaran, walau seenak apapun proses pacaran kami yang mwulus bagaikan jalan tol. Tapi tetep aja AKU juga masih pengeeennnnn kawin! Pengen punya anak, pengen bisa tiap hari ketemu dia tanpa perlu basa basi dulu sama orang tuanya, pengen bs dipeluk dan dibuatin susu coklat tiap hari saat pulang kntr, pengen travelling berdua-enggak sendiri2 kayak sekarang.

Lalu ada ada yang bertanya “apa lagi yang kamu tunggu? Aku enggak ngerti deh” dalam hati kujawab: ya kamu emang enggak perlu ngerti kalo gitu!

Yang mau kawin kan gue! Gw lebih tahu apa yg gw tahu, bukan?

Lalu mereka berasumsi bahwa “Kawin itu enak lhooo? Cepetan deh !”

Mksd lo??? Sekarang gw enggak bahagia hanya karena gw masih sendiri??? Ya enggak lah! Im totally happy! Walau aku juga tahu bahwa setelah menikah saya InsyAllah tetap bahagia.

“Ayo jangan lama2, ntar kebayakan dosa lho!” iya, saya juga tahu bahwa menikah itu adalah ibadah, tetapi saya juga taahu bahwa ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, bukan dengan paksaan.

“elo kan cakep, maasa sih enggak ada yang mau?” mksd loooo???? Kl dia Cuma liat gw dari luarnya doang, justru gw yang ogah sama dia. Ntar begitu gw keriputan, dia ninggalin gw!

“tapikan umur lo dah 25!” iya, saya juga tahu lha wong saya yang menjalani kok. Saya sedang berusaha sedang tidak panic. Karena kecenderungan orang yang panic itu adalah mengambil segala sesuatu yang dekat. Sikat. Naahhh….kok rasanya enggak bijak ya….enggak berpikir jangka panjang gitu…seperti layaknya orang yang dewasa yang diharuskan utk berpikir jangka panjang sebelum mengambil segala keputusan. Ya to?

Dan ini lah saya: 25 tahun, muda, punya pekerjaan, punya pacar yang juga sudah punya pekerjaan, seiman, akur luar biasa, bahagia dan belum MENIKAH!!! Yipey!!! :D

*Jika ada begitu banyak hal di luar kenyamanan rasa kita yang perlu dipertimbangkan untuk sebuah pernikahan maka seolah itu menegaskan betapa unsecure-nya manusia.

pertanyaan yg menganggu

Banyak yang saya hadapi dalam beberapa hari ini.

Sebenarnya tidak langsung berefek langsung kesaya, tapi rasanya terlalu sayang jika saya abaikan tanpa kesan.

Disebuah siang yang tenang, seorang teman bertanya tentang sesuatu yang membangkitkan pikiran.


Betapa berbedanya kodrat perempuan dan lelaki.

Teman saya bercerita tentang sedih dirinya karena ditinggal pacarnya yang lebih memilih lelaki lain yang lebih siap untuk dinikahi, dibanding dia yang masih berpacu mencari ilmu.

Saya tidak heran mendengarnya, bukannya saya tidak sedih mendengar teman baik saya disakiti, walau baru kali ini mendengar secara langsung cerita seperti ini. Tetapi seakan2 hal ini tak asing di pengalaman pikiran saya.

Cerita dimulai ketika si perempuan dibombardir semua pihak yang menanyakan kapan akan menikah, dengan siapa dan seterusnya...

Si pria yang dengan logikanya menganggap bahwa hal itu Cuma basa basi busuk yang nggak perlu ditanggapi merasa bahwa pertanyaan itu ringan adanya dan tak perlu diambil hati.

Saya, sebagai Perempuan yang juga berada di ambang usia yang sama seperti perempunnya, bercerita banyak hal padanya.

Bahwasannya perempuan yang saya kenal juga mengalami hal sama dengan perempuannya, bahwa ketika mulai beranjak umur 20an, maka keluarga si perempuan akan dengan senyum gembira, bertanya kapankah anak perempuan, keponakan perempuan, cucu perempuan, adik perempuan, sepupu perempuan, teman perempuan mereka akan menikah? Perempuan tersebut, sayangnya tak hanya mendapatkan pertanyaan dari kerabat perempuannya saja, tetapi juga dari kerabat lelakinya—walau hal ini relatif lebih sedikit.

Walau terlihat sepele, tetapi percayalah hal ini sangatlah menganggu—at least begitulah yang kebanyakan teman saya rasakan. Apalagi bagi kami para perempuan yang di klaim lebih banyak mengambil keputusan dengan menggunakan perasaan.

Pertanyaan itu sangatlah menganggu.

Sehingga akhirnya seperti yang teman perempuan saya lakukan, meninggalkan lelakinya demi lelaki lain yang lebih siap untuk dinikahi.

Walau teman lelaki saya tak habis pikir, kenapa dia bisa melakukannya.

Saya, si perempuan yang bernasib sama, akan sangat mengerti kenapa dia melakukan itu.

Syukurnya sampai sekarang saya tidak memilih melakukannya. Walau pria di ujung pulau sana sudah sudah berkali2 bertanya, “kapan aku bisa melamarmu?”

Dan pertanyaan yang menggaggu ini tidak lah berlangsung sebentar, katakanlah dimulai dari umur 20an sampai dengan 40an, mulai dari pembicaraan acara pernikahan impian, sampai dengan ulangan pertanyaan kapan kapan dan kapan?

Dan acara kumpul bersama keluarga yang waktu kecil dulu selalu kami nanti2kan karena bisa bertemu dengan banyak saudara, mulai kami kurangi. Acara pernikahan yang dulu kami sukai karena bisa makan gratis sekarang mulai kami hindari. Reuni yang dulu menjadi acara yang ditunggu2 sekarang menjadi acara yang menyebalkan. Hanya karena satu pertanyaan itu. Pertanyaan yang sangat mengganggu.

Andai para penanya itu tahu, kami juga ingin menikah secepatnya, jika memang sudah ada calonnya, kami juga ingin menikah cepat jika memang calonnya sudah siap, kami juga tahu bahwa menikah adalah salah satu dari 3 hal yang harus disegerakan dalam hukum islam selain mengubur orang yang sudah meninggal dan berbuka puasa.

Dan andai para penanya itu tahu, bahwa kami sangat benci pertanyaan itu.

Tetapi seperti yang diajarkan para tetua hendaklah untuk selalu bersyukur atas segala yang dialami.

Saya masih bisa bersyukur, setidaknya saya punya lelaki itu.

Walau hanya Allah yang tahu kapan kami akan bersatu, tapi setidaknya niat itu membuat kami terpacu.

Walau sudah lama kami bersama, tapi setidaknya umur saya masihlah muda untuk melanjutkan hidup dan menetapkan mimpi.

Walau sudah pernah tertunda, setidaknya saya diberi pengganti yang lebih baik.

Walau tak bisa menjawab pertanyaanya, setidaknya hubungan kami direstui orang tua.

Walau kami sering berbeda pandangan setidaknya kami tak berbeda keyakinan.

Sepatu merek Aman

38% perempuan punya 10-20 Sepatu.

Tidak asing ya dengan kenyataan ini, sebuah polling yang diadakan sebuah majalah perempuan ini makin menguatkan persepsi saya, bahwa sepasang tidak akan pernah cukup. Titik.

Tidak heran Imelda Marcos sampai bisa membuat museum karena kebiasaannya, mantan bos saya sampai perlu memborong 5 sepatu saat berlibur ke Singapore--tanpa secuil belanjaan bajupun, Teman sebelah kamar di kost, bahkan punya lebih dari 30 pasang sepatu yang bertumpuk di depan kamarnya. Dari mana saya tahu? iseng2, saat sedang menggoreng telor di dapur sambil menunggu telor matang, saya hitung alas kakinya itu—yang sampai sekarang masih membuat saya terkaget2, krn jumlahnya! Lhaa..itu br yg berserakan didepan, trus yg disimpen di kamarnya ada berapa?

Apa iya jumlah sebanyak itu akan dipakai? Tentu tidak! Yang dipakai sehari2 pastilah hanya sekitar 5 pasang. Utk dipakai bergiliran dr Senin-Jumat, adil kan?

Lalu, sisanya dipake kapan? Dan buat apa?

Menurutku, perempuan adalah mahluk yang mempunyai lingkar rasa aman pendek, sehingga dia memerlukan hal2 lain utk membuatnya merasa “aman”. Perlu suami yang kaya, utk membuatnya “aman” (hehehe..ini pengen aman ato memang matre? hhihihihi) , perlu membawa beraneka ragam barang di dalam tasnya utk membuat kami nyaman dan aman jika sewaktu2 terjadi ‘kecelakaan’ dan salah satunya juga, kami merasa perlu menyediakan banyak sepatu utk membuat kami merasa ‘aman’. Aman jika sewaktu2 ada panggiilan interview, maka sepatu keds yang bisanya dipakai bisa lngsng diganti dengan pump shoes, aman jika sewaktu2 pacar/gebetan mengajak dinner maka sneaker yang jadi andalan bisa diganti dengan stiletto. Atau jika ballerina shoes yang dipakai setiap hari terasa membosankan maka bisa segera diganti dengan wedges yang serasi dengan padanan baju hari itu.

See…jadi jelaslah mengapa kami memerlukan sepatu sebanyak itu.

Dan jika kalian para lelaki tidak bisa mengerti kenapa kami para perempuan suka sekali menyiksa diri dengan memakai high heels, padahal jelas2 itu tidak nyaman. Maka sekali lagi, alasannya adalah agar ‘aman’, ya aman dari tampilan jelek! Hehehehe…

Lalu apakah aku termasuk dari 38% perempuan itu? Sayangnya, aku termasuk dalam 50% perempuan yang memiliki 5-10 pasang sepatu, dengan model flat utk kesemua modelnya. Dan aku tidak memerlukan rasa ‘aman’ tersebut, at least sampai hari ini yaaa.

Karena syukurnya, flat shoes ku bisa kupakai ke kantor, cocok utk kupakai utk interview, nyaman utk bermotor ria saat pacaran dan aku selalu berpikir bahwa warna pink bisa dipakai dengan warna baju apapun hehehe ;p

Jika anda bosan melihat saya dengan model seperti itu, maka satu2nya tempat dimana anda bisa melihatku dengan model sepatu yang lain, adalah di kondangan. Dan carilah saya di pojokan daerah dgn tempat duduk, niscaya saya sedang mojok memegang piring dengan sepatu terlepas dr kakinya. Karena High Heels it’s not made for me :D

impresi

Seorang adik tingkat menelponku di siang mendung sabtu ini. Saya memang sedang me-recharge tenaga setelah kembali turun gunung ke jagat lembur berhari-hari ini..

Dia mulai bercerita sedang mencari tempat utk magang (/KKL), dan dia menyatakan keinginannya yang teramat utk bisa magang di TBWA—tempat saya bekerja.

Saya lalu bertanya: Kenapa TBWA?

Dia menjawab: “sebenarnya kmrn ada lowongan di B*****G (sebuah agency local—red) tapi setelah aku lihat, hasil2 ad-nya enggak jauh beda sama agency tempat aku kerja kayaknya kok bikin iklan Cuma berdasarkan maunya client aja (sebelumnya dia bekerja di sebuah Agency local di Jogja) sedangkan kl aku lihat TBWA itu iklan2nya keren2, nahh..aku pengen belajar gimana caranya jadi AE (kayak kamu) yang pintar meyakinkan client utk bikin iklan yang disruptive!,” katanya mantap, sambil memberikan contoh brand besar—yang memang menjadi salah satu client regional kami.

Aku tertawa.

Ini adalah sebuah ironi. Tentang bagaimana seorang mahasiswa begitu terkesan tentang sebuah agency multinational yang menurut pandangannya sangat keren tadi. Dan betul kata seorang ibu mantan calon nasabah saya dulu bahwa “semuanya itu sawang sinawang”—nothing like what it seems.

Dia kemudian menambahkan, bahwa dia sangat terpesona dengan TBWA “aku bahkan suka sama logonya, yang keren itu”

Saya kembali tertawa.

Betapa dunia kami sangat meng-impresi orang luar, itu sudah lama saya tau. Tetapi sebuah pujian dialamatkan langsung ke saya, itu yang saya belum pernah dapat.

Tentang keinginannya utk magang, itu siii saya persilahkan utk nya utk mencoba, karena toh bukan saya decision makernya. Tapi saya berkeputusan utk memberitahukan dia hal yang lain. Hal yang mungkin tidak diketahuinya selama ini, Bahwa kami sebagai AE tidaklah sehebat yang dia kira, dan kami sebagai perusahaan belumlah se-disruptive yang dia kira.

Saya jelaskan bahwa tidak semua client bisa diajak dan dibuat disruptive, dan enggak semuanya juga bisa diajak maju dengan IMC (integrated marketing campaign). Bahwa iklan yang dia liat itu, sayangnya bukanlah bikinan TBWA-Indonesia. Walaupun dia client regional kami, tapi dia juga berhak utk mengajak pihak lain untuk bekerja sama tanpa sepetahuna kami, dan kemudian saya jelaskan iklan2 apa saja yang di handle oleh kami. Tapi dia tetap insist. Saya jelaskan dengan maaf, bahwa sekarang ini agency kami belumlah sehebat agency sebelah dalam program magangnya. Dia tetap kembali insist.

Takut saya membuatnya patah semangat. Saya memberitahukan bahwa ada lowongan AE utk sebuah brand Bir, dan dia kembali bersinar-sinar.

Saya mencoba utk membuatnya mau magang di tempat yang lebih baik, utk konteks belajar dan sebagai gantinya, menjadikan TBWA sebagai tujuan cita2 tempat bekerjanya. Dan syukurnya Dia sepakat.

Dan saya hanya bisa tersenyum sambil merasakan semangatnya yang juga mengalir ke saya.

Saya rindu idealisme itu, saya kangen cita2 saya!

Thursday, February 14, 2008

snacking

9pm. Saya masih di kantor. Mencoba bertahan dari serangan para client yang meminta semua revisi lay out, quotation, revisi storyboard done by tomorrow! Client yang aneh….Oia, kemarin mereka baru saja meminta offline by Friday, padahal Storyboardnya aja blm approve sampai hari ini! Hehehe…emang kagak ada konsepnya! Akunya juga males mau nerangin satu2, hal yang teknik bgt, yang seharusnya seseorang dengan pangkat brand manager ngerti hal2 begituan.

Enyway….malam ini saya menghibur diri sambil chatting dengan teman sekantor (bayangkan, Cuma beda 3 cubicle doing, masa ngobrol via YM yang notabene pesannya mesti dikirim dl ke satelitnya yg di Amrik, trus br nyampe ke temen sebelah kita…hehehe, sebuah indikasi bahwa tampaknya kita semakin menghindari bertatap dan berbicara langsung).

Saya juga sambil chatting sama teman lama dari Jogja. Dia cerita baru saja makan lupis di pasar Ngasem! Waaaa..sontak saya iri setengah mati. Karena saya juga menyukai lupis di pasar Ngasem, biasanya setelah menghangatkan diri dengan semangkuk soto depan pasar Ngasem, saya membawa pulang sebungus Lupis, yang dibeli di gerbang Pasar Ngasem…dan sambil berjalan ke tempat parkir sekaian melihat hewan yang dijual disana (hmmmm…saya masih bisa mengingat baunya….)

Selain bakso, lupis adalah salah satu makanan favorit saya. Terbuat dari beras ketan yang dikukus dan dimakan dengan campuran parutan kelapa dan cairan caramel gula merah hmmm….

Selama di jkarta saya belum juga menemukan bakso yang pas dengan lidah saya dan tentu saja dengan lupis. Lupis paling dekat yang bisa saya temukan ada di pasar tebet yang dijual dengan harga Rp 1300 sebuahnya!!!! Mahal bgt hikss L

Selain lupis, saya juga sangat merindukan ronde, bubur sumsum dan bubur Jaipong! (maannn!!! Ada yang tahu enggak dimana aku bisa menemukan makanan nikmat ini di Jakarta Raya?)


 

Eh, udah jam 9:19pm..pulang dulu ya…See you tom! :D


 


 


 

 

Tuesday, February 12, 2008

Pernahkah engkau coba menerka apa yang tersembunyi di sudut hati?

Derita di mata, derita dalam jiwa kenapa tak engkau pedulikan?

Sepasang kepodang terbang melambung Menukik bawa seberkas pelangi Gelora cinta, gelora dalam dada kenapa tak pernah engkau hiraukan?

Selama musim belum bergulir Masih ada waktu untuk saling membuka diri sejauh batas pengertian Pintu tersibak, cinta mengalir sebening embun

Kasih pun deras mengalir cemerlang sebening embun

Pernahkah engkau coba membaca sorot mata dalam menyimpan rindu? Sejuta impian, sejuta harapan kenapakah mesti engkau abaikan?

Selama musim belum bergulir Masih ada waktu untuk saling membuka diri sejauh batas pengertian Pintu tersibak, cinta mengalir sebening embun

Kasih pun deras mengalir cemerlang sebening embun

Selama musim belum bergulir Masih ada waktu untuk saling membuka diri

sejauh batas pengertian Pintupun tersibak, cinta mengalir sebening embun

Monday, February 04, 2008

tamasya 3 kota

Kurang dari sebulan, saya sudah balik lagi ke bandara. Dan kurang dari 1 bulan juga, saya balik lagi ke Surabaya.

Tapi kali ini saya enggak sendiri, disini saya menjumpai keluarga saya, yang sudah lebih dulu datang.

Kebetulan papa sedang ada dinas disini, maka ketika liburan sekolah tiba, mama, dimas dan nadya datang utk berlibur kesini, termasuk saya.

Jumat, 26 jan’08

Datang dengan Air Asia yang delay 40” membuat saya datang dengan badan lelah. Untungnya kami langsung ke Hotel di Gresik tempat papa menginap selama ini.

Speaking of Air Asia, ini adalah pertama kalinya saya terbang dengan maskapai asal Malaysia ini. Selain masalah delay-nya, ada hal menarik hati saya saat kami mau berangkat tadi. Motto yang menurut saya cocok dengan AirAsia adalah “siapa cepat dia dapat”, baik dari soal paling cepat mendapatkan harga termurahnya sampai dengan mendapatkan seat-nya.

Nah, saya ada cerita unik soal ini. Saat diumumkan bahwa penumpang sudah bisa mulai memasuki pesawat, maka kami yang sudah menunggu lama di ruang tunggu langsung semangat antre, semua orang ingin berdiri paling depan dengan harapan bisa dapet seat yg enak. Termasuk saya, padahal awalnya saya enggak tahu-menahu soal ini (there always be a first time for eveything to?) hahaha….Indonesia banget enggak sih? sukanya ikut2an.

Setelah pintu dibuka, kami berdesak-an utk bisa keluar dari ruang tunggu. Jadi inget waktu mau liat konser Sheila On Seven jaman SMA dulu hehehe…

Perjuangan belum selesai, karena walaupun sudah keluar dari r. tunggu tapi para penumpang itu masih tetap bersemangat dalam mengejar seat, mereka mulai berlari2 kecil, sampai dengan jalan super cepat…naahhh termasuk saya.

Saya yang Cuma memanggul tas ransel, merasa gengsi kalo sampe kalah dengan ibu2 yang bawa koper bwesar, dan perempuan2 ber-hak tinggi. Aku mesti menang!

Tiba2 ugh! Kakiku kencang, menegang…waah, ini sih tanda2 kram! Owh man! Not right now!, not now!, tidak sekarang! Malu doong sama yang lain kl sampe kalah….gengsi!!

Kupaksakan kakiku melangkah sambil tersakit2, terutama saat menaiki tangga pesawat (saya masuk dr pintu belakang). Begitu masuk pesawat, lho kok masih banyak?...aku lupa kalo pesawat itu kursinya banyak, enggak kayak Kijang yang isinya Cuma 8 ;p

Saya yang tadinya bersemangat, sekarang malah jadi bingung, pilih yang mana yaw? Hhff..tau gini, tadi enggak usah maksa jalan cepet dengan kaki kram..

Kulihat kekiri dan langsung kududuki kursi trsbt, dekat jendela, setelah sayap. Penumpang yg heboh ternyata berkerumun di depan, ada apa ya? Emangnya kl duduk didepan lebih cepet nyampe dibandingin yg dibelakang? Tadinya saya mau kedepan juga, tapi saya malas kalo pemandangannya tertutup sayap, jadi ya..mending disini saja.

Yang paling seru, kalo naik pesawat, menurutku adalah pemandangan dr atas. Dan night flight itu artinya kamu akan melihat lampu2 menyala seolah seperti segenggam permata putih&kuning yang disebar diatas karpet hitam. Jadi inget nyanyiannya Gombloh “kerlap-kerlip lampu dikota, kedap-kedip matamu nakal..

MasyAllah, Jakarta memang luar biasa padat ya, tak ada satu jengkal tanahnya pun yang tak berlampu.

Oya, aku mau cerita juga pada saat pramugara&pramugari AirAsia ini memperagakan semacam “aturan keselamatan” (duh, aku gak ruh jenenge). Menurutku ini adalah peragaan paling OK yang bisa aku ingat, karena:

1. Sebelum mereka memeragakan, announcer memperkenalkan nama pramugara&i yang memperagakannya, sehingga saya sebagai penumpang merasa “mengenal” mereka dan terasa “dekat” gitu deh…

2. Mengucapkan “Assalamualaikum” sambil mengatupkan tangan di dada. Sebuah detail manis yang sayangnya terlewatkan oleh maskapai penerbangan Indonesia yang lain, padahal ini adalah negeri dengan pemeluk Islam terbesar di dunia! Sebuah gesture yang sekali lagi mengesankan “keramahan” khas masyarakat Melayu. God is in detail.

3. Saat announcer mengucapkan kata2 peraga, dia mengucapkannya dengan intonasi yang enak, pronounciation yang baik, lancar, jelas dan menggunakan pilihan kata yang benar, dengan jeda yang cukup, sehingga penumpang punya waktu utk berpikir, mencerna informasi yang diberikan dan memahaminya. Mereka sangat sadar bahwa penumpang suka menyepelekan hal2 penting sperti ini. Tak seperti maskapai lain, yang hanya “sekedar lewat” saat mengucapkannya. Padahal saat kecelakaan terjadi, merekalah yang akan sangat kerepotan ketika penumpang menjerit panik.

4. Di beberapa step peragaan, terlihat ada beberapa step yang berbeda dengan maskapai yang lain. Misalnya, ujung rompi yang pertama ditarik adalah yang kanan, baru setelah itu yg kiri.

Hehehe…seru deh…

--***--

eniwei,walaupun saya sudah berumur seperempat abad, tetapi sekamar bertiga dengan adik2 saya yang sudah jadi ABG, maka enggak jamin ritual tidur menjadi lebih mudah. Kami masih aja rame banget saling mengejek, sambil tertawa terkikik-kikik saat salah satu dari kami membuat lelucon. Dan tidur di tempat tdr yg sama berukuran single dengan adik perempuan saya yang tingginya hampir sama dengan saya juga jadi masalah, karena tempat tdr itu rasanya jadi sempiiiiiit bgt! Untung kami, paling tidak saya tidur dengan tenang, jadi masalah tidur berdua dalam 1 kasur yg sama, enggak menjadi terlalu masalah bagi kami.

Sekarang masalah AC. Saya memang kurang suka dengan AC, terutama jika cuaca masih cukup bersahabat maka badan saya akan lebih memilih angin jendela dan otak saya akan bersepakat dengannya mengingat issue global warming yang masih anget bgt diomongin kmrn. Tapi Dimas, adik saya betah bgt, maka pertengkaran kecil menjadi dongeng awal tdr kami. Tappi itu tidak berlangsung lama, karena saya ancam “boleh pake AC selama selimutmu boleh buatku!” hehehe..dan dia tentu saja tidak akan mau melakukannya. Maka malam itu kami tidur dengan bantuan Angin Cendela.

Untungnya udara Gresik malam itu enggak terlalu panas..jadi saya bisa tidur dengan nyenyaaakkk..zzz.zzzz

Sabtu, 27 jan’08

Tadinya kupikir kami bisa langsung jalan2 di sabtu pagi, ternyata papa mesti ngantor dl..maka jadilah kami menungguinya sampai siang. Menghabiskan waktu dengan menonton TV dan gossip, sperti layaknya sabtu dirumah sendiri.

12:30

Akhirnya papa pulang juga, dan kami langsung pergi ke Surabaya. Tujuan pertama: makan siang!

Kami makan di Dapur Desa. Sebuah restoran dengan konsep makanan tradional. Menurut pengamatan saya, makanannya wennak! Cobain deh: iga bakar sapinya yang penuh dengan bumbu, cumi isi kentang yang yummy, tahu nya gwemuk dan mwantep. Dan yang enggak kalah swedap adalah es kacang ijonya, yang juaraaaa bgt! Karena si Kacang ijo di buat empuk, trus dikasi kuah santan kental, yang saking kentalnya sampai di beberapa bagian, gurihnya santan akan sangat terasa dan hmmm…..nikmaaaat bgt!

Saking nikmatnya, es kacang ijo pesananku itu tandas di perut mama..heheehe..

note: tempat ini not recommended utk back-packers ya, karena mwahal neeekk!;)

Setelah itu kami jalan ke Tunjungan Plaza. Parkirannya penuh bgt. Setelah muter2 dengan bersusah payah, akhirnya kami bisa parkir dan masuk ke area perbelanjaannya.

Sayangnya saya enggak bisa cerita banyak disini karena belum sampai ½ jam kami berjalan tiba2 saya merasakan serangan mual &sakit perut yang luar biasa. Rasanya, baru kali ini saya ke enggak betah di mall, walaupun sudah diiming2i window shopping di butik Zara, tapi tetap aja perut ini berontak…dan karena sakit kali ini terlalu parah, maka kami pulang lagi ke hotel di Gresik. Di hotel saya tidur seharian, sementara yang lain lanjut kembali ke TP. Ahhh..nasib-nasib…jauh2 ke Surabaya, kok ya malah Cuma buat numpang tidur doangL.

Minggu, 27 Jan’08

Kali ini jadwal jalan2 kami juga agak tertunda, karena papa kembali harus ngantor dulu. But it’s fine karena siang ini kami pergi ke Lamongan!!

Lamongan berada di sebelah barat laut Surabaya. Untuk sampai ke Lamongan dari Gresik. Anda akan melewati Jalan raya Daendles. Yup, this is Jalan Raya Anyer-Panarukan. Jadi inget sama ceritanya Pak Pram ya..sedih rasanya membayangkan mereka2 yang menjadi korban kerja rodi pada saat pembangunannya. Jalan yg dibangun dengan nyawa dan airmata. Kini kita bisa jalan dengan lancar diatasnya.

Sepanjang jalan ini kita akan menjumpai banyak tambang garam—pemandangan yang lumayan umum dilihat disekitar jalan di jawa timur?, home industry bata—disini batu bata-nya terbuat dari tanah putih dikarenakan tidak ada bata merah, sampai ke Batubara! Iya, batubara yang ditambang di kalimantan dan kulihat kemarin banyak berserakan di Banjarmasin ini juga ternyata berserakan di Gresik... dengan tanah yang kurang subur, angin yang panas karena pengaruh Angin Muson Barat(?) maka kota ini memang cocok bgt jadi daerah industri, Kawasan Industri Maspion yang lwuas bgt itu juga kami lewati.

Sekitar 40’ dan kami sudah sampai di Lamongan!!! Kami berplesiran di Wisata Bahari Lamongan.

Tempat wisata ini terlihat sangat penuh, terutama karena saat kami datang bertepatan dengan hari minggu dan libur sekolah pula…

Tempat ini berada di pinggir pantai Lamongan, didepannya ada sebuah bangunan biru bwesar yang tembok di depannya dihias dengan hewan2 laut berukuran jumbo. Bangunan ini berfungsi sebagai gerbang, ticket box, foodcourt dengan makanan special seafood, toko oleh-oleh, dsb…

Tiket masuknya, terdiri dari 2 jenis. Mereka menyebutnya PaHe 1 yang berharga Rp. 25.000,- & PaHe 2 berharga Rp 40.000,- . Perbedaannya selain terletak pada harganya, juga terletak pada fasilitas permainan. PaHe 2 meng-cover lebih banyak permainan—jadi banyak yg bisa anda masuki, semacam tiket semi-terusan gitu.

Bentuk tiketnya seperti sebuah kertas gitu, yang mempunyai lem diujungnya sehingga dikenakan sebagai gelang—wuihh kayak nonton konser nii!

Dan yang paling keren, wlalupun terlihat seperti kertas, tetapi gelang ini water-proof lhooo…

Sayang, terbuat dari kertas ya jadi gampang kusut. Padahal jika mereka mau lebih sedikit kreatif, gelangnya bisa dibuat dari karet/plastik, yang tetap water-proof dan setelah pengunjung pulang dari situ gelangnya masih bisa tetap dipakai, karena utk beberapa orang hal tersebut bisa dibuat sebagai kebanggaan. Seperti saya yang sebenarnya masih kepengen memamerkannya ke teman2 kntr sebagai bukti bahwa saya pernah plesiran ke Lamongan!

Untuk ukuran Lamongan, yang terhitung kota kecil, tempat wisata ini menurut saya, lumayan keren. Karena ukuran tempatnya yg bwesar dan terlihat dikelola secara professional (walaupun saya enggak tahu apakah tempat ini dikelola oleh PemDa atau swasta?). tempat ini berkonsep “belajar sambil bermain” sangat cocok sebagai tujuan wisata para keluarga. Karena selain permainan, didalmnya juga ada semacam ‘museum’. Misalnya, wahana yg pertama kami masuki

adalah “rumah kucing” didalam rumah ini, anda akan diperkenalkan dengan serba-serbi kucing, mulai dari cara memeliharanya, makanannya sampai jenis2 kucing. Didalam rumah tersebut ada banyak species kucing yang mereka pelihara utk di pamerkan.

Ketika kami datang kesana, matahari tepat berada di atas kepala..jadinya baru juga mulai, kaos yg kami pakai sudah berpeluh basah.

Banyak wahana yang kami lewati, mungkin karena kami udah segaban2 gini jadi agak males memasukinya. Ada 1 wahana, akhirnya yang cukup bikin saya &nadya excited utk menaikinya. Namanya Space Shuttle (anehnya dibahasa indonesiakan menjadi Karpet terbang?!), bentuknya seperti Kora2, tetapi Space Shuttle ini diayun dengan cara di putar keatas lalu kebawah, pergerakannya mirip seperti letter O, cukup dengan 7000 perak lumayan mengocok adrenalin. Tadinya kami berlima pengeeen bgt naik banana boat, tapi panasnya itu looo…nyengat bgt! Akhirnya kami Cuma beli es krim dan balik ke Gresik.


Kami kembali melewati Jalan Raya Daendles.

Trus berhenti disebuah rumah makan “Lestari Jaya” . rumah makan ini terletak diantara jalan raya Lamongan-Gresik, berada di sebelah kiri jalan dr arah Lamongan. Disini kami makan siang dengan menu Ikan Sembilang, Rawon dan Asam Tulang. Rasanya: WuENnaAK BGT!!!! Ikan sembilang-nya dimasak kuah kuning, dengan rasa kuah yang agak kecut seperti layaknya masakan Manado, daging yang wempuk, dan jika anda memilih bagian badan maka dipastikan tidak ada duri satupun yang menancap, porsi 1piring bisa tandas tak tersisa! Jika anda memilih bagian kepala, maka kulitnya tebal dengan minyak ikan sehingga terasa kenyal seperti kikil dan bakal seru bgt kalo anda mau memakan dengan cara dihisap-hisap. Asam Tulang-nya dibuat dari iga sapi, kuahnya terasa sangat segar, dagingya jg empuk…duuh gwurihhh!. Saya sendiri memesan rawon, penasaran apakah rawon Lamongan akan terasa berbeda? Ternyata memang rawonnya terasa beda dibandingkan dengan rawon Surabaya yang selama ini sering saya makan. Rawon disini terasa lebih banyak bumbu2nya, penuh dengan rempah2, jadi terasa beda dan seru!

Note: highly recommended, karena selain harganya yg dahsyat! Harga perporsinya (sudah dengan nasi+es jeruk/teh) Cuma menghabiskan 16rb saja per orangnya.

Hffff….kenyang deh…

Tiba2 dapet SMS yang bertuliskan:
AIRASIA: URGENT!YOUR FLIGHT Q27219 SUBCGK 27JAN08 AT 22.20 RETIMED TO 23.50. SORRY FOR THE INCONVENIENCE CAUSED….

Hmmm langsung males dehhh..harusnya namanya ganti aja jadi AirDelay!!! L