Kurang dari sebulan, saya sudah balik lagi ke bandara. Dan kurang dari 1 bulan juga, saya balik lagi ke Surabaya.
Tapi kali ini saya enggak sendiri, disini saya menjumpai keluarga saya, yang sudah lebih dulu datang.
Kebetulan papa sedang ada dinas disini, maka ketika liburan sekolah tiba, mama, dimas dan nadya datang utk berlibur kesini, termasuk saya.
Jumat, 26 jan’08
Datang dengan Air Asia yang delay 40” membuat saya datang dengan badan lelah. Untungnya kami langsung ke Hotel di Gresik tempat papa menginap selama ini.
Speaking of Air Asia, ini adalah pertama kalinya saya terbang dengan maskapai asal Malaysia ini. Selain masalah delay-nya, ada hal menarik hati saya saat kami mau berangkat tadi. Motto yang menurut saya cocok dengan AirAsia adalah “siapa cepat dia dapat”, baik dari soal paling cepat mendapatkan harga termurahnya sampai dengan mendapatkan seat-nya.
Nah, saya ada cerita unik soal ini. Saat diumumkan bahwa penumpang sudah bisa mulai memasuki pesawat, maka kami yang sudah menunggu lama di ruang tunggu langsung semangat antre, semua orang ingin berdiri paling depan dengan harapan bisa dapet seat yg enak. Termasuk saya, padahal awalnya saya enggak tahu-menahu soal ini (there always be a first time for eveything to?) hahaha….Indonesia banget enggak sih? sukanya ikut2an.
Setelah pintu dibuka, kami berdesak-an utk bisa keluar dari ruang tunggu. Jadi inget waktu mau liat konser Sheila On Seven jaman SMA dulu hehehe…
Perjuangan belum selesai, karena walaupun sudah keluar dari r. tunggu tapi para penumpang itu masih tetap bersemangat dalam mengejar seat, mereka mulai berlari2 kecil, sampai dengan jalan super cepat…naahhh termasuk saya.
Saya yang Cuma memanggul tas ransel, merasa gengsi kalo sampe kalah dengan ibu2 yang bawa koper bwesar, dan perempuan2 ber-hak tinggi. Aku mesti menang!
Tiba2 ugh! Kakiku kencang, menegang…waah, ini sih tanda2 kram! Owh man! Not right now!, not now!, tidak sekarang! Malu doong sama yang lain kl sampe kalah….gengsi!!
Kupaksakan kakiku melangkah sambil tersakit2, terutama saat menaiki tangga pesawat (saya masuk dr pintu belakang). Begitu masuk pesawat, lho kok masih banyak?...aku lupa kalo pesawat itu kursinya banyak, enggak kayak Kijang yang isinya Cuma 8 ;p
Saya yang tadinya bersemangat, sekarang malah jadi bingung, pilih yang mana yaw? Hhff..tau gini, tadi enggak usah maksa jalan cepet dengan kaki kram..
Kulihat kekiri dan langsung kududuki kursi trsbt, dekat jendela, setelah sayap. Penumpang yg heboh ternyata berkerumun di depan, ada apa ya? Emangnya kl duduk didepan lebih cepet nyampe dibandingin yg dibelakang? Tadinya saya mau kedepan juga, tapi saya malas kalo pemandangannya tertutup sayap, jadi ya..mending disini saja.
Yang paling seru, kalo naik pesawat, menurutku adalah pemandangan dr atas. Dan night flight itu artinya kamu akan melihat lampu2 menyala seolah seperti segenggam permata putih&kuning yang disebar diatas karpet hitam. Jadi inget nyanyiannya Gombloh “kerlap-kerlip lampu dikota, kedap-kedip matamu nakal..”
MasyAllah, Jakarta memang luar biasa padat ya, tak ada satu jengkal tanahnya pun yang tak berlampu.
Oya, aku mau cerita juga pada saat pramugara&pramugari AirAsia ini memperagakan semacam “aturan keselamatan” (duh, aku gak ruh jenenge). Menurutku ini adalah peragaan paling OK yang bisa aku ingat, karena:
1. Sebelum mereka memeragakan, announcer memperkenalkan nama pramugara&i yang memperagakannya, sehingga saya sebagai penumpang merasa “mengenal” mereka dan terasa “dekat” gitu deh…
2. Mengucapkan “Assalamualaikum” sambil mengatupkan tangan di dada. Sebuah detail manis yang sayangnya terlewatkan oleh maskapai penerbangan Indonesia yang lain, padahal ini adalah negeri dengan pemeluk Islam terbesar di dunia! Sebuah gesture yang sekali lagi mengesankan “keramahan” khas masyarakat Melayu. God is in detail.
3. Saat announcer mengucapkan kata2 peraga, dia mengucapkannya dengan intonasi yang enak, pronounciation yang baik, lancar, jelas dan menggunakan pilihan kata yang benar, dengan jeda yang cukup, sehingga penumpang punya waktu utk berpikir, mencerna informasi yang diberikan dan memahaminya. Mereka sangat sadar bahwa penumpang suka menyepelekan hal2 penting sperti ini. Tak seperti maskapai lain, yang hanya “sekedar lewat” saat mengucapkannya. Padahal saat kecelakaan terjadi, merekalah yang akan sangat kerepotan ketika penumpang menjerit panik.
4. Di beberapa step peragaan, terlihat ada beberapa step yang berbeda dengan maskapai yang lain. Misalnya, ujung rompi yang pertama ditarik adalah yang kanan, baru setelah itu yg kiri.
Hehehe…seru deh…
--***--
eniwei,walaupun saya sudah berumur seperempat abad, tetapi sekamar bertiga dengan adik2 saya yang sudah jadi ABG, maka enggak jamin ritual tidur menjadi lebih mudah. Kami masih aja rame banget saling mengejek, sambil tertawa terkikik-kikik saat salah satu dari kami membuat lelucon. Dan tidur di tempat tdr yg sama berukuran single dengan adik perempuan saya yang tingginya hampir sama dengan saya juga jadi masalah, karena tempat tdr itu rasanya jadi sempiiiiiit bgt! Untung kami, paling tidak saya tidur dengan tenang, jadi masalah tidur berdua dalam 1 kasur yg sama, enggak menjadi terlalu masalah bagi kami.
Sekarang masalah AC. Saya memang kurang suka dengan AC, terutama jika cuaca masih cukup bersahabat maka badan saya akan lebih memilih angin jendela dan otak saya akan bersepakat dengannya mengingat issue global warming yang masih anget bgt diomongin kmrn. Tapi Dimas, adik saya betah bgt, maka pertengkaran kecil menjadi dongeng awal tdr kami. Tappi itu tidak berlangsung lama, karena saya ancam “boleh pake AC selama selimutmu boleh buatku!” hehehe..dan dia tentu saja tidak akan mau melakukannya. Maka malam itu kami tidur dengan bantuan Angin Cendela.
Untungnya udara Gresik malam itu enggak terlalu panas..jadi saya bisa tidur dengan nyenyaaakkk..zzz.zzzz
Sabtu, 27 jan’08
Tadinya kupikir kami bisa langsung jalan2 di sabtu pagi, ternyata papa mesti ngantor dl..maka jadilah kami menungguinya sampai siang. Menghabiskan waktu dengan menonton TV dan gossip, sperti layaknya sabtu dirumah sendiri.
12:30
Akhirnya papa pulang juga, dan kami langsung pergi ke Surabaya. Tujuan pertama: makan siang!
Kami makan di Dapur Desa. Sebuah restoran dengan konsep makanan tradional. Menurut pengamatan saya, makanannya wennak! Cobain deh: iga bakar sapinya yang penuh dengan bumbu, cumi isi kentang yang yummy, tahu nya gwemuk dan mwantep. Dan yang enggak kalah swedap adalah es kacang ijonya, yang juaraaaa bgt! Karena si Kacang ijo di buat empuk, trus dikasi kuah santan kental, yang saking kentalnya sampai di beberapa bagian, gurihnya santan akan sangat terasa dan hmmm…..nikmaaaat bgt!
Saking nikmatnya, es kacang ijo pesananku itu tandas di perut mama..heheehe..
note: tempat ini not recommended utk back-packers ya, karena mwahal neeekk!;)
Setelah itu kami jalan ke Tunjungan Plaza. Parkirannya penuh bgt. Setelah muter2 dengan bersusah payah, akhirnya kami bisa parkir dan masuk ke area perbelanjaannya.
Sayangnya saya enggak bisa cerita banyak disini karena belum sampai ½ jam kami berjalan tiba2 saya merasakan serangan mual &sakit perut yang luar biasa. Rasanya, baru kali ini saya ke enggak betah di mall, walaupun sudah diiming2i window shopping di butik Zara, tapi tetap aja perut ini berontak…dan karena sakit kali ini terlalu parah, maka kami pulang lagi ke hotel di Gresik. Di hotel saya tidur seharian, sementara yang lain lanjut kembali ke TP. Ahhh..nasib-nasib…jauh2 ke Surabaya, kok ya malah Cuma buat numpang tidur doangL.
Minggu, 27 Jan’08
Kali ini jadwal jalan2 kami juga agak tertunda, karena papa kembali harus ngantor dulu. But it’s fine karena siang ini kami pergi ke Lamongan!!
Lamongan berada di sebelah barat laut Surabaya. Untuk sampai ke Lamongan dari Gresik. Anda akan melewati Jalan raya Daendles. Yup, this is Jalan Raya Anyer-Panarukan. Jadi inget sama ceritanya Pak Pram ya..sedih rasanya membayangkan mereka2 yang menjadi korban kerja rodi pada saat pembangunannya. Jalan yg dibangun dengan nyawa dan airmata. Kini kita bisa jalan dengan lancar diatasnya.
Sepanjang jalan ini kita akan menjumpai banyak tambang garam—pemandangan yang lumayan umum dilihat disekitar jalan di jawa timur?, home industry bata—disini batu bata-nya terbuat dari tanah putih dikarenakan tidak ada bata merah, sampai ke Batubara! Iya, batubara yang ditambang di kalimantan dan kulihat kemarin banyak berserakan di Banjarmasin ini juga ternyata berserakan di Gresik... dengan tanah yang kurang subur, angin yang panas karena pengaruh Angin Muson Barat(?) maka kota ini memang cocok bgt jadi daerah industri, Kawasan Industri Maspion yang lwuas bgt itu juga kami lewati.
Sekitar 40’ dan kami sudah sampai di Lamongan!!! Kami berplesiran di Wisata Bahari Lamongan.
Tempat wisata ini terlihat sangat penuh, terutama karena saat kami datang bertepatan dengan hari minggu dan libur sekolah pula…
Tempat ini berada di pinggir pantai Lamongan, didepannya ada sebuah bangunan biru bwesar
yang tembok di depannya dihias dengan hewan2 laut berukuran jumbo. Bangunan ini berfungsi sebagai gerbang, ticket box, foodcourt dengan makanan special seafood, toko oleh-oleh, dsb…
Tiket masuknya, terdiri dari 2 jenis. Mereka menyebutnya PaHe 1 yang berharga Rp. 25.000,- & PaHe 2 berharga Rp 40.000,- . Perbedaannya selain terletak pada harganya, juga terletak pada fasilitas permainan. PaHe 2 meng-cover lebih banyak permainan—jadi banyak yg bisa anda masuki, semacam tiket semi-terusan gitu.
Bentuk tiketnya seperti sebuah kertas gitu, yang mempunyai lem diujungnya sehingga dikenakan sebagai gelang—wuihh kayak nonton konser nii!
Dan yang paling keren, wlalupun terlihat seperti kertas, tetapi gelang ini water-proof lhooo…
Sayang, terbuat dari kertas ya jadi gampang kusut. Padahal jika mereka mau lebih sedikit kreatif, gelangnya bisa dibuat dari karet/plastik, yang tetap water-proof dan setelah pengunjung pulang dari situ gelangnya masih bisa tetap dipakai, karena utk beberapa orang hal tersebut bisa dibuat sebagai kebanggaan. Seperti saya yang sebenarnya masih kepengen memamerkannya ke teman2 kntr sebagai bukti bahwa saya pernah plesiran ke Lamongan!
Untuk ukuran Lamongan, yang terhitung kota kecil, tempat wisata ini menurut saya, lumayan keren. Karena ukuran tempatnya yg bwesar dan terlihat dikelola secara professional (walaupun saya enggak tahu apakah tempat ini dikelola oleh PemDa atau swasta?). tempat ini berkonsep “belajar sambil bermain” sangat cocok sebagai tujuan wisata para keluarga. Karena selain permainan, didalmnya juga ada semacam ‘museum’. Misalnya, wahana yg pertama kami masuki

adalah “rumah kucing” didalam rumah ini, anda akan diperkenalkan dengan serba-serbi kucing, mulai dari cara memeliharanya, makanannya sampai jenis2 kucing. Didalam rumah tersebut ada banyak species kucing yang mereka pelihara utk di pamerkan.
Ketika kami datang kesana, matahari tepat berada di atas kepala..jadinya baru juga mulai, kaos yg kami pakai sudah berpeluh basah.
Banyak wahana yang kami lewati, mungkin karena kami udah segaban2 gini jadi agak males memasukinya. Ada 1 wahana, akhirnya yang cukup bikin saya &nadya excited utk menaikinya. Namanya Space Shuttle (anehnya dibahasa indonesiakan menjadi Karpet terbang?!), bentuknya seperti Kora2, tetapi Space Shuttle ini diayun dengan cara di putar keatas lalu kebawah, pergerakannya mirip seperti letter O, cukup dengan 7000 perak lumayan mengocok adrenalin. Tadinya kami berlima pengeeen bgt naik banana boat, tapi panasnya itu looo…nyengat bgt! Akhirnya kami Cuma beli es krim dan balik ke Gresik.
Kami kembali melewati Jalan Raya Daendles.
Trus berhenti disebuah rumah makan “Lestari Jaya” . rumah makan ini terletak diantara jalan raya Lamongan-Gresik, berada di sebelah kiri jalan dr arah Lamongan. Disini kami makan siang dengan menu Ikan Sembilang, Rawon dan Asam Tulang. Rasanya: WuENnaAK BGT!!!! Ikan sembilang-nya dimasak kuah kuning, dengan rasa kuah yang agak kecut seperti layaknya masakan Manado, daging yang wempuk, dan jika anda memilih bagian badan maka dipastikan tidak ada duri satupun yang menancap, porsi 1piring bisa tandas tak tersisa! Jika anda memilih bagian kepala, maka kulitnya tebal dengan minyak ikan sehingga terasa kenyal seperti kikil dan bakal seru bgt kalo anda mau memakan dengan cara dihisap-hisap. Asam Tulang-nya dibuat dari iga sapi, kuahnya terasa sangat segar, dagingya jg empuk…duuh gwurihhh!. Saya sendiri memesan rawon, penasaran apakah rawon Lamongan akan terasa berbeda? Ternyata memang rawonnya terasa beda dibandingkan dengan rawon Surabaya yang selama ini sering saya makan. Rawon disini terasa lebih banyak bumbu2nya, penuh dengan rempah2, jadi terasa beda dan seru!
Note: highly recommended, karena selain harganya yg dahsyat! Harga perporsinya (sudah dengan nasi+es jeruk/teh) Cuma menghabiskan 16rb saja per orangnya.
Hffff….kenyang deh…
Tiba2 dapet SMS yang bertuliskan:
AIRASIA: URGENT!YOUR FLIGHT Q27219 SUBCGK 27JAN08 AT 22.20 RETIMED TO 23.50. SORRY FOR THE INCONVENIENCE CAUSED….
Hmmm langsung males dehhh..harusnya namanya ganti aja jadi AirDelay!!! L