Saturday, February 16, 2008

pertanyaan yg menganggu

Banyak yang saya hadapi dalam beberapa hari ini.

Sebenarnya tidak langsung berefek langsung kesaya, tapi rasanya terlalu sayang jika saya abaikan tanpa kesan.

Disebuah siang yang tenang, seorang teman bertanya tentang sesuatu yang membangkitkan pikiran.


Betapa berbedanya kodrat perempuan dan lelaki.

Teman saya bercerita tentang sedih dirinya karena ditinggal pacarnya yang lebih memilih lelaki lain yang lebih siap untuk dinikahi, dibanding dia yang masih berpacu mencari ilmu.

Saya tidak heran mendengarnya, bukannya saya tidak sedih mendengar teman baik saya disakiti, walau baru kali ini mendengar secara langsung cerita seperti ini. Tetapi seakan2 hal ini tak asing di pengalaman pikiran saya.

Cerita dimulai ketika si perempuan dibombardir semua pihak yang menanyakan kapan akan menikah, dengan siapa dan seterusnya...

Si pria yang dengan logikanya menganggap bahwa hal itu Cuma basa basi busuk yang nggak perlu ditanggapi merasa bahwa pertanyaan itu ringan adanya dan tak perlu diambil hati.

Saya, sebagai Perempuan yang juga berada di ambang usia yang sama seperti perempunnya, bercerita banyak hal padanya.

Bahwasannya perempuan yang saya kenal juga mengalami hal sama dengan perempuannya, bahwa ketika mulai beranjak umur 20an, maka keluarga si perempuan akan dengan senyum gembira, bertanya kapankah anak perempuan, keponakan perempuan, cucu perempuan, adik perempuan, sepupu perempuan, teman perempuan mereka akan menikah? Perempuan tersebut, sayangnya tak hanya mendapatkan pertanyaan dari kerabat perempuannya saja, tetapi juga dari kerabat lelakinya—walau hal ini relatif lebih sedikit.

Walau terlihat sepele, tetapi percayalah hal ini sangatlah menganggu—at least begitulah yang kebanyakan teman saya rasakan. Apalagi bagi kami para perempuan yang di klaim lebih banyak mengambil keputusan dengan menggunakan perasaan.

Pertanyaan itu sangatlah menganggu.

Sehingga akhirnya seperti yang teman perempuan saya lakukan, meninggalkan lelakinya demi lelaki lain yang lebih siap untuk dinikahi.

Walau teman lelaki saya tak habis pikir, kenapa dia bisa melakukannya.

Saya, si perempuan yang bernasib sama, akan sangat mengerti kenapa dia melakukan itu.

Syukurnya sampai sekarang saya tidak memilih melakukannya. Walau pria di ujung pulau sana sudah sudah berkali2 bertanya, “kapan aku bisa melamarmu?”

Dan pertanyaan yang menggaggu ini tidak lah berlangsung sebentar, katakanlah dimulai dari umur 20an sampai dengan 40an, mulai dari pembicaraan acara pernikahan impian, sampai dengan ulangan pertanyaan kapan kapan dan kapan?

Dan acara kumpul bersama keluarga yang waktu kecil dulu selalu kami nanti2kan karena bisa bertemu dengan banyak saudara, mulai kami kurangi. Acara pernikahan yang dulu kami sukai karena bisa makan gratis sekarang mulai kami hindari. Reuni yang dulu menjadi acara yang ditunggu2 sekarang menjadi acara yang menyebalkan. Hanya karena satu pertanyaan itu. Pertanyaan yang sangat mengganggu.

Andai para penanya itu tahu, kami juga ingin menikah secepatnya, jika memang sudah ada calonnya, kami juga ingin menikah cepat jika memang calonnya sudah siap, kami juga tahu bahwa menikah adalah salah satu dari 3 hal yang harus disegerakan dalam hukum islam selain mengubur orang yang sudah meninggal dan berbuka puasa.

Dan andai para penanya itu tahu, bahwa kami sangat benci pertanyaan itu.

Tetapi seperti yang diajarkan para tetua hendaklah untuk selalu bersyukur atas segala yang dialami.

Saya masih bisa bersyukur, setidaknya saya punya lelaki itu.

Walau hanya Allah yang tahu kapan kami akan bersatu, tapi setidaknya niat itu membuat kami terpacu.

Walau sudah lama kami bersama, tapi setidaknya umur saya masihlah muda untuk melanjutkan hidup dan menetapkan mimpi.

Walau sudah pernah tertunda, setidaknya saya diberi pengganti yang lebih baik.

Walau tak bisa menjawab pertanyaanya, setidaknya hubungan kami direstui orang tua.

Walau kami sering berbeda pandangan setidaknya kami tak berbeda keyakinan.

No comments: