Banyak yang saya hadapi dalam beberapa hari ini.
Sebenarnya tidak langsung berefek langsung kesaya, tapi rasanya terlalu sayang jika saya abaikan tanpa kesan.
Disebuah siang yang tenang, seorang teman bertanya tentang sesuatu yang membangkitkan pikiran.
Betapa berbedanya kodrat perempuan dan lelaki.
Teman saya bercerita tentang sedih dirinya karena ditinggal pacarnya yang lebih memilih lelaki lain yang lebih siap untuk dinikahi, dibanding dia yang masih berpacu mencari ilmu.
Saya tidak heran mendengarnya, bukannya saya tidak sedih mendengar teman baik saya disakiti, walau baru kali ini mendengar secara langsung cerita seperti ini. Tetapi seakan2 hal ini tak asing di pengalaman pikiran saya.
Cerita dimulai ketika si perempuan dibombardir semua pihak yang menanyakan kapan akan menikah, dengan siapa dan seterusnya...
Si pria yang dengan logikanya menganggap bahwa hal itu Cuma basa basi busuk yang nggak perlu ditanggapi merasa bahwa pertanyaan itu ringan adanya dan tak perlu diambil hati.
Saya, sebagai Perempuan yang juga berada di ambang usia yang sama seperti perempunnya, bercerita banyak hal padanya.
Bahwasannya perempuan yang saya kenal juga mengalami hal sama dengan perempuannya, bahwa ketika mulai beranjak umur 20an, maka keluarga si perempuan akan dengan senyum gembira, bertanya kapankah anak perempuan, keponakan perempuan, cucu perempuan, adik perempuan, sepupu perempuan, teman perempuan mereka akan menikah? Perempuan tersebut, sayangnya tak hanya mendapatkan pertanyaan dari kerabat perempuannya saja, tetapi juga dari kerabat lelakinya—walau hal ini relatif lebih sedikit.
Walau terlihat sepele, tetapi percayalah hal ini sangatlah menganggu—at least begitulah yang kebanyakan teman saya rasakan. Apalagi bagi kami para perempuan yang di klaim lebih banyak mengambil keputusan dengan menggunakan perasaan.
Pertanyaan itu sangatlah menganggu.
Walau teman lelaki saya tak habis pikir, kenapa dia bisa melakukannya.
Saya, si perempuan yang bernasib sama, akan sangat mengerti kenapa dia melakukan itu.
Dan andai para penanya itu tahu, bahwa kami sangat benci pertanyaan itu.
Saya masih bisa bersyukur, setidaknya saya punya lelaki itu.
Walau hanya Allah yang tahu kapan kami akan bersatu, tapi setidaknya niat itu membuat kami terpacu.
Walau sudah lama kami bersama, tapi setidaknya umur saya masihlah muda untuk melanjutkan hidup dan menetapkan mimpi.
Walau sudah pernah tertunda, setidaknya saya diberi pengganti yang lebih baik.
Walau tak bisa menjawab pertanyaanya, setidaknya hubungan kami direstui orang tua.
Walau kami sering berbeda pandangan setidaknya kami tak berbeda keyakinan.
No comments:
Post a Comment