Monday, August 27, 2007
cantik itu luka
dia melihatku bingung.
aku bilang "cantik itu luka, sayang"
dia jawab "cantik itu bodoh!"
18/08/07
mejaku
isi mejaku:
sudah setahun aku bekerja disini dan pindah meja 3kali.
mungkin meja ini akan menjadi pelabuhan terakhirku kecuali aku pindah ke agency lain hehe...
as you can see, berantakan...(biar keliatan kerja-lah)...
ok, let start ya:
- percis disebelah komputer adalah lampu, lampu ini akan menyala tepat setelah jam6pm, karena lampu dan AC di gedung ini selalu mati setelah jam 6. padahal aku seringkali bekerja hingga larut malam, memeriksa copy2 advertorial, cek warna di final artwork, lihat timeline project,dll... jadi pantes aja kalo minus mataku bertambah tebal saja... (that's why ada lampu gede& kipas angin jumbo di depan mejaku,biar anak2 gak kepanasan kali ya?)
- dibawah lampu ada boneka kecil, teddy bear merek Nutrilon, merchandise peninggalan Nutricia dulu...
- calender, must have item seorang AE, warning sign that everyday counts.
- botol aer minum, yang tiap pagi diantar damin/mugi. isinya cuma 600ml, itupun kadang aku gak habis, karena saking gak sempet&gak inget utk minum, padahal dengan siklus kerja dan dalam ruangan dwingin kayak gini, seharusnya aku banyak2 minum.
- obat ester C. setip pagi kuminum (ini juga kalo inget). Buat aku yang rentan bgt flu, obat ini pwenting!!
- agenda, ini juga barang penting utk masukin semua deadline dan to-do-list tiap hari.
- alat tulis, yang gak pernah masuk kembali ke tempatnya dan suka banget diklepto sama anak2 swebel....
- CEMILAN!!!... suatu hari, tim kita kedatengan orang baru, baru juga 2 hari dia gabung, suatu pagi dia bilang "kayaknya siska suka ngemil, ya?" heks!! gubrak! so obvious ya :) tapi itu obat ampuh untuk mengaburkan stress yang seringkali melanda, jadi dipastikan rak dibawah mejaku terisi penuh dengan makanan :P
- handphone dengan volume plus vibrate kencang yang mesti ON, full batery dan terisi pulsa, buat alat komunikasi ke client, supplier, anak tim yang lain.
- celengan..itu di pinggir kiri yang nyempil, buat nyimpen recehan, kalo damin susah ngasih kembalian tiap makan siang, karena dia suka sekali bilang "punya gope'an mbak?" ....
Monday, August 13, 2007
"tak tertulis di CO"
seluruh dunia persilatan, apalagi untuk mereka yang ngakunya punya ilmu design, juga ngerti kalo ITU ARTINYA PANJANG KALI TINGGI!!
gila ya....
entah siapa yang bodoh disini?
Thursday, August 09, 2007
DanRem
sore ini saya bertemu dengan Daniel Rembeth, one of the CEO from The Jakarta Post.
pertama kali saya mengenalnya ketika dia datang ke kampus sebagai pembicara di kuliah umum saat dia masih menjabat sebagai Client Service Director di TBWA.
sebuah kebetulan (tak ada kebetulan dalam hidup,kata Quraish Syihab) saya kemudian menjadi salah satu client service di TBWA dan dia sudah tak menjabat disana.
4 tahun setelah pertemuan pertama kami, akhirnya kami bertemu di Starbuck, pada sebuah rabu sore yang sendu saat Rakyat Jakarta sedang bersorak merayakan kemenangan bang kumis (dalam satu cerita di kuliah umum itu, Daniel bercerita saat dia masih di New York, dia membaca sebuah promo bahwa Starbuck menjajikan kopi mereka didatangkan dari sebuah daerah di
Eniwei, kami bicara banyak hal, mulai dari account planner, tentang perjalanan hidupnya; kuliah di arsitek, S2 di jurusan lighting yang tak rampung, belok belajar bisnis, magang di TimesWarner, bekerja di majalah Time 6 tahun, mbangun Acc planning@ Matari, pindah ke BBDOMatari, BBDO Komunika, TBWA dan akhirnya The Jakarta Post.
Tentang Fauzi Bowo yang menang pemilihan, kampus, buku, lukisan, teater.
Bahwa:
· Agency berfungsi sebagai pembantu komunikasi, semua hal yang berhubungan dengan brand serahkan saja pada clientnya, toh mereka yang punya datanya.
· Iklan yang baik, akhirnya adalah iklan yang menjual.
· Agency harus membuat core target audience dari target audience yang diberikan oleh client, dilihat dari index yang berpotensi menjadi konsumen. Jika data quantitatifnya tak ada, kita buat saja kualitatifnya dari observasi, rajin2lah jalan2!, ambil benang merahnya dalam menentukan Audience cangkup nasional. Be spesifik, jika dari Demography-nya sama maka bisa berbeda dalam psychography-nya misal umur.
· Yang bisa membunuh brand adalah brand managernya.
· Jangan dibuat rumit.
· Menariknya advertising adalah kamu bisa jumping around, belajar untuk tidak berpikir linear. Dalam 1 hari yang sama, kamu bisa belajar soal kecap& sambal-misalnya, dengan positioning yang berbeda2.
· tak ada kata terlambat dalam belajar, sabar, waktu kamu masih panjang. "Waktu umur 24 saya gak mikir kerja cuma mikir naik gunung, saya malah kagum sama yang umur 24 sudah mikir kerja. David Ogilvy bikin advertising aja di umurnya yang ke 30, Pak Ken sebelumnya kerja di travel agent".
· Setiap hari selalu ada hal yang menarik, utk jadi pembelajaran.
08.07.07
campaign
Hari ini hari pencoblosan untuk Daerah Istimewa Jakarta. Dengan 2 kandidatnya Fauzi Bowo dan Adang Daradjatun.
Sebuah kompetisi pemimpin yang kembali berulang, dengan media konvensial dengan cara konvensial juga, bukannya menjadi sarkastik, tapi memang begitulah adanya.
Yang satu bervisi mengatur
Yang kedua sepertinya punya dana lebih banyak, karena punya beberapa titik billboard, yang saya tahu pasti tidak murah untuk menyewanya, tetapi cara-cara curi startnya bahkan ketika dia masih resmi menjabat sebagai PNS wakil gubernur (dia menonaktifkan baru setelah officially mencalonkan diri—sesuai dengan perda) menjadi terkesan (maaf) “rakus”.
Dan keduanya masih memasang semua tanda kampanye itu walau jelas2 durasi untuk melakukannya sudah habis.
Atau memang begitulah wajah kampanye kita?
Baik dengan politik, maupun dengan promo barang dan jasa.
Saya sebagai pelaku didalamnya, mengerti benar bahwa kita harus mencuri perhatian khalayak untuk mengirimkan pesan ditengah gempuran informasi yang crowded ini.
Tapi apakah tidak bisa dilakukan dengan cara2 yang lebih baik ya?
Semua brand seakan ingin berlomba2 menjadi yang paling sering dilihat, paling besar terlihat, paling sering didengar, dan ada disemua tempat. Akibatnya semua permukaan dijadikan media berpromosi.
Saya mengagumi pihak2 yang bisa menemukan media baru yang unkonvensional untuk menyampaikan pesannya.
Tapi lagi2 semuanya berujung pada sebuah kesempatan untuk menggempur konsumen dari semua hal, mulai dari bangun tidur: memencet jam alarm-hadiah dari sebuah bank, memakai sandal dari sebuah hotel, mengeluarkan piring untuk sarapan-hadiah dari sabun colek, sampai di kantor naik lift juga disuguhi dengan film iklan yang tergantung di dinding lift, di dalam ruang meeting membuka buku agenda hadiah dari sebuah majalah, sampai mau tidur juga disuguhi dengan sabun muka gratis hadiah dari odol kesayangannya.
Saya membayangkan dunia tanpa kegiatan promosi.
Tanpa iklan, tanpa direct selling, tanpa sample, tanpa diskon….coba mari kita bayangkan.
Sebuah dunia dimana saya bisa mendengarkan musik tanpa disela oleh spot atau adlibs sebuah dunia dimana saya bisa nonton bioskop tanpa awalan film iklan, sebuah dunia dimana saya akan membeli semuanya sesuai dengan yang saya butuhkan bukan atas impulsive buying saya—at least begitulah impian saya.
Tapi saya tak mungkin bermimpi akan dunia itu, karena saya adalah salah satu manusia yang hidup, bekerja, belajar tentang bagaimana membantu menjual lebih banyak. Jika dunia impian saya tadi ada, trus saya bekerja dimana??
Suatu hari saat saya dan lelakiku berada di sebuah warung soto, di depan pasar burung (yang jaman dulunya adalah sebuah danau buatan) kami berdiskusi tentang branding warung, dia begitu gelisah dan tak nyaman dengan betapa vulgar sebuah brand minuman suplemen membuat warung soto kesayangan kami menjadi kuning dengan taplak2 plastik bertuliskan brand tersebut dan dummy pack segede2 gaban di atas meja makan kami.
Dia berujar, seharusnya tidak perklu sevulgar ini, seharusnya agencynya bisa memperkirakan ukuran meja akan sebesar apa sehingga bisa terlihat manis tanpa menganggu, seharusnya dummy2 itu tak ada, apa fungsinya????
Saya menyetujuinya, karena menurut saya branding ini jauh lebih baik jika dilakukan di toko jamu-misalnya, karena toh minuman ini tidak tersedia di warung ini, jadi objective akhir dari sebuah advertising yaitu “action” tidak bisa terjadi dengan baik di warung ini (masak iya, begitu lihat meja ini, pengunjung mau segopoh2 mencari warung jamu disekitar pasar ini, daripada makan soto sesuai dengan tujuan semula?)
Dia menyetujuinya…(aku lega, sekan berkata dalam hati “hey, im quite smart ya?” seakan berkata dalam hati gak nyangka aku bs berpikir secerdas ini-thanks braino!)
Kami kembali berdiskusi, dia berujar tentang sebuah ide bahwa sebaiknya pengiklan (sebagai yang punya uang), biro iklan (sebagai yang membuat design dan penghambur uang), dan pemerintah daerah (sebagai yang menerima uang) membuat semacam konvensi bahwa mereka semua menyetujui untuk membuat kampanye yang tidak perlu vulgar, yang tidak akan menganggu pemandangan khalayak, yang walau ukuran logonya kecil tapi khalayak tetap bisa melihat dengan jelas, karena semua brand sepakat untuk membuat media promonya sesuai konteks dan tidak menganggu.
Satu pertanyaan saya: Bisakah?
Tuesday, August 07, 2007
blogwalking.
jika mau saya bisa saja puas berinternetan di hari sabtu dan minggu. tapi masak iya saya mau menggulung selimut, melewatkan oprah winfrey--saat matahari belumlah tinggi-- dan berjalan ke kntr, walau jarak antara kos dan kantor paling cuma 5menit.
eniwei, hari ini sedang gegap gempita sedap gumbira karena boss lagi pergi, client juga lagi anteng adem ayem, mungkin karena besok mau nyoblos (apa hubungannya??) sehingga saya bisa puas memboroskan pulsa internet. lewat seorang teman, saya bertukar alamat blog dan tanpa dinyana dia juga memberikan alamat blog seorang kakak tingkat yang dikenal cerdas, wartawan je....
aku membukanya dan merasa sangat terhibur, blog milik kambingjantan juga OK, walau tak semuanya lucu, karena belum dipilih oleh editor seperti bukunya.
sore ini dingin, diluar matahari menggulung cepat, andai bisa kulambatkan seperti manusia2 di jerman yang mengalami senja lebih lama.
walau tak ada pekerjaan yang berarti....
6:40 senja sudah bergulir sedari tadi, tetapi ragaku masih mematung disini, rencana utk pulang cepat punah sudah. karena saya masih harus menunggu revisi slide promo event mall to mall untuk diantarkan malam ini juga! no matter jam berapa!!! dudul... :(
rujak
karena rujak ini aku beli sendiri, gak nyuruh damin (OB multinational company yang suka banget ngomong Oh My God! kalo lagi keluar senewennya dan ngomong "you know that thing" kalo lagi pengen rahasi2an, ngomong "goodmorning" tiap pagi dan celotehan2 ajaib lainnya) jadinya buah2 didalamnya sesuai banget dengan seleraku.
kalo pesen rujak via damin, aku akan bilang "min, gak pake jambu belimbing, nanas dan timun ya"
kalo dipikir2 kita tuh gampang banget mengingat hal yang nggak kita suka tapi tidak dengan sebaliknya...ya ga sich?
padahal kalimat anjuran atau perintah (according to the book i've read) lebih efektif jika menggunakan kalimat positif instead of kalimat negatif.
jadi mungkin akan bijaksana daripada menyuruh beli rujak kecuali jambu dan nanas timun dan belimbing" mending ngomongnya "beli rujak yang isinya mangga, bengkoang, kedondong, pepaya.
tapi kok kayaknya ribet ya? jadi gimana dong??
daminnnnnn!!!!!!
Monday, August 06, 2007
Breaking and entering
Breaking and entering
Another movie cast by Jude Law.
After “Alfie” and “Holiday” this is the 3rd time i saw him.
I think this is the best movie he ever played.
Jujur, waktu aku memilih dia diantara tumpukan DVD bajakan di keramaian ITC, wajah gagahnya nggak bisa boong. I choosed him!
But, headline yang tertampang “from Anthony Minghella, the academy award-winning director of THE ENGLISH PATIENT and COLD MOUNTAIN”, membuatku terhenyak dan berkata ‘well ok!’...
Tapi itu belum berakhir, aku sebagai perempuan dewasa normal dan melihat tubuh seksi Jude Law di front cover langsung berkata ‘I have to buy this’.
Dan disinilah aku setelah akhirnya pulang jam 6 sore---very earlier since I always home after 9pm from office. Aku membayar keletihanku dengan Jude Law.
Dan semuanya terbayar. LUNAS
selain memandangi bentuk seksinya---PUAS BGT! (iyalah masak dah bayar dia mahal2 trus aset indahnya gak diliatin gt? Bisa rugi bandar produsernya, secara itu kan emang unique selling point nya dia, gt lhoh *pasang muka setan; )
Cerita yang disodorkan oleh Anthony Minghella juga OK!
Seperti biasa cerita yang ditawarkan masih seputar cinta. Dan Jude Law sebagai pria yang finding true love—bisa memerankannya dengan baik. (well, senyum manisnya tambah point plus pastinya huehahahheehehe...aduh, maaf ya jadi vulgar gini, efek kalender kayaknya ;)
Pada pembukaan film, pesan yang ingin disampaikan pun sudah jelas “begitu kamu tidak pernah saling memandang (pasanganmu), maka ketika kamu memandang balik, kamu akan melihat the distance between you” yang kemudian dijelaskan dalam film bahwa that distance sangat jauh, sehingga kamu perlu melakukan kesalahan demi kesalahan untuk membuatnya membaik. (*seringkali kita nggak pernah sadar, tentang hal itu ya huff..)
Francis adalah seorang arsitek ( mata anda akan dimanjakan oleh rumah indahnya) mempunyai partner hidup, anaknya mengalami semacam autis.
Dan mereka sering timbul masalah karenanya. Permasalahan klasik orang tua, merasa harus melindungi anak mereka. dan resikonya hal itu malah akan melukai mereka, hati dan hubungan yang sedang mereka bangun.
Betapa orang tua sangat mencintai anak mereka, akan kamu tangkap jelas dalam film ini. Termasuk cerita tentang Pria dewasa yang sedang mencari cinta.
Ada sebuah quote yang saya suka dari film ini “im looking for my love outside, but im afraid im loosing the love that i’ve already had, the love of my live, did i?” sambil menatap pasangannya saat Jude Law mengakui perselingkuhanya.
Pesan moral dari film ini: seberapapun baiknya pasangan yang kamu punya, jangan lupa untuk terus mengajaknya terlibat dalam hubungan kalian, it takes two to tango, jujurlah rasakan apa yang terjadi pada kalian, yang bisa menyelesaikan masalah apapun dalam hubungan itu adalah kalian dan definetely not others. Dan apa yang kalian miliki dalam hubungan itu adalah sesuatu yang dimiliki berdua dan bukan hanya salah satu dari kalian.
Hihihi...sok pakar hubungan gitu ya, gw kedengarannya?
Menghabiskan malam di rumah Aan.
Berawal dari sebuah keinginan untuk bersosialisasi, meletihkan rasanya terlalu sering menghabiskan akhir pekan di pusat keramaian. Maka untunglah undangan untuk berkumpul tadi malam, bertepatan dengan mudiknya teman shoppingku.
Berangkatlah aku jam 21.oo, alamatnya singkat Mahogani Park b12 no11. berbekal 3 fotocopy-an peta jakarta dan seorang teman yang baik hatinya sebagai teman seperjalanan.
Aku sudah diwanti2 sebelumnya bahwa Bintaro sektor 9 itu jauh sekali. Tapi nafsuku untuk bertemu dengan teman2 mengalahkannya. Dan begitulah nasibku, terjebak dalam sumpeknya udara malam macetnya jakarta.
Berkali-kali kami berhenti bertanya pada orang di jalan, karena ternyata sektor 9 tak ada dalam peta.
Kurang lebih 1,5jam jauhnya rumah Aan dari kosku, begitu sampai sana topik betapa jauh rumahnya (Tangerang man!) menjadi topik pembicaraan yang sangat menarik selama 3 jam kedepan. Gojek sampai pagi, seru banget!
Tadinya kami semua mengejek habis2an soal ini, tapi setelah dipikir2 lagi...kalau kami memutuskan untuk punya rumah di Jakarta pasti juga bakal dipinggiran kayak gitu, atau malah bisa lebih minggir secara harga tanah a’udzubillah mahalnya.
Aan mulai bercerita tentang mahal dan rumitnya mengurus rumah, dia berpesan nek ono duwite jika bisa dari sekarang untuk mencicil rumah, jangan ditunda lagi.
*Aku dan Deon terkikik...kikik...nek ono duwite tho :p
Paginya begitu bangun tidur, cekakak cekikik sambil nglungker-nglungker lan semampir koyok cucian,baca koran, dolanan mobil remote sing bensine entek..sambil nunggu mbak feby selesai masak, trus habis itu makan!!!! Hehe..ya, kami memang “teman dari suami yang tidak tahu diri” (kata ini muncul dari sikap Aan yang begitu bangun tidur langsung nyomot makanan dan bilang kalo ayamnya kurang asin! Edan, gak tahu diri bgt ya? Udah dimasakin, masih nyacat??!)
Karena perjalanan kami masih jauh, setelah makan (yugyas gak makan karena gak terbiasa, untung kutimpali “kami mungkin nggak terbiasa, tapi yang lainnya terbiasa” hehehe....) kami segera bertolak menuju peradaban J
Dijalan, tepatnya di perempatan Pancoran, ada hal yang menarik...pada saat kami berhenti di lampu merah, ada serombongan pemuda yang membawa spanduk yang kurang lebih bertuliskan “kalau tidak sekarang, kapan lagi kita akan berlaku tertib?” sambil berdiri di atas zebra cross, beharap mereka2 yang yang berhenti pada posisi paling depan bisa membaca anjuran tersebut dengan jelas (dan ikhlas?;). Kejutan belum berakhir, ketika kami menuju perempatan selajutnya, berhenti lagi karena lampu merah kulihat sebuah mobil van milik Potlantas terisi penuh dengan speaker- speaker besar, dan mengalunkan lagu milik Agnes Monica “cinta ini kadang2 tak ada logika....”??!!
“mungkin lagunya sengaja dipasang buat reng-reng an selama lampu merah” kata teman saya.
Wednesday, August 01, 2007
“panic attack”
Setelah aku rasa2kan, kayaknya aku punya “panic attack”. Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara aku bertahan? Tetap bekerja dengan baik di tempat yang secara culture, tak ada yang pasti dan dalam sehari aku bisa jumping around berkali2….
Aku tak bisa berjanji pada keluargaku apakah aku akan hadir di pernikahan sepupuku, karena bisa jadi apa yang kujanjikan hari ini tak akan terealisasi di kemudian hari.
Ketika muntab, reaksi yang muncul dariku adalah menangis…mata berkaca2 dan seolah2 tak tahan lagi, bingung harus berbuat apa dan tumpahlah semua air itu…..
Tapi semuanya akan berlalu, semuanya akan berlalu sampai kemudian aku bisa berkata aghhh ternyata “its just piece of cake”. Everything its gonna be okay darling….walau aku tahu itu, walau berjuta film yang berbicara tentang itu sudah kutonton, walau pengalaman hidupku mengajarkan itu, tapi tetap saja ketika kepanikan itu selalu datang menyergap, aku tergagap gagap gap gap gap…….
manusia audio.
Menurut sebuah quiz di majalah, aku termasuk manusia audio. Yaitu manusia yang akan mudah terstimuli lebih karena audio, biasanya mahluk seperti aku ketika diajak ngobrol mataku akan bereaksi melihat ke kanan dan kekiri. Jika dibandingkan dengan mahluk visual—yang akan menatap matamu ketika mereka diajak bicara, atau mahluk sentuhan—yang suka sekali jika ada kontak fisik dengan lawan bicara (hmm..sound familiar isn’t? Hihihi)
Mungkin itu sebabnya kenapa aku mudah tersinggung, suka disanjung, dan suka tersandung—mungkin karena kalo jalan aku nggak pake mata tapi pake kuping! Hehehe...
Mungkin itu sebabnya juga aku bisa bertahan tetap melek malam ini, hanya karena suara dari radio tetap berkoar2 semalaman.
Minggu ini adalah minggu sangat sibuk. Berangkat kantor rutin sebelum jam 8, dan pulang diatas jam 10. Secara fisik, aku dah sampai pada tahap badanku mulai protes keras. Tapi sudahlah, keluh tentang pekerjaanku tak akan membuat kesibukan yang luar biasa berakhir walau kuteruskan cerita ini. Lgipula minggu depan juga nggak kalah sibuknya.
Keriangan menyambut cucu.
Keriangan menyambut cucu.
Kemarin, saya berkunjung ke rumah ibu calon mertua.
Tak enak rasanya, jika saya hanya kesana ketika ada anaknya saja—aku orang Jawa sekali ya :P
Sekali ini, lagi2 aku membawa baju yang perlu dipermak, maka disindirlah saya bahwa saya hanya main kesana kalo ada yang mau dipermak aja, dan saya tak berusaha menutupi---lha wong secara kebetulan selalu begitu je…
Calon adik ipar saya sedang mengandung, kemarin dapat hasil bahwa si calon anak berjenis kelamin pria. Suami dan si calon bapak, berbinar2 matanya, tampak dengan sangat bahwa dia begitu sayang kepada istrinya dan tak sabar menunggu anaknya lahir kedunia.
Sebenarnya ada apa dengan anak lelaki?
Lelakiku yang dulu juga menginginkan anak lelaki, begitu juga dengan lelakiku yang sekarang.
Beruntunglah bapakku yang mempunyai anak lelaki ditengah anak perempuannya. Lalu bagaimana dengan perasaan kakak iparku yang kesemua anaknya perempuan?
Some how, aku merasa “jangan2 dulu kehadiranku di dunia, agak mengecewakan bapakku, karena aku bukan laki2?”
Jika ditanya kenapa? Lelakiku tak punya jawabnya, terlalu banyak perempuan di dunia ini, jawaban yang bukan jawaban sepertinya.
Jika ditanya aku mau nya apa?
Honest, aku juga pengen punya anak cowok tapi punya anak cewek juga tak mengapa, lebih indah jika kedua nya kurasa….aku juga mengakui bahwa punya anak cowok itu lebih bangga seakan2 aku bisa berkata “hey, aku bisa bikin anak cowok lho!!"—mengingat sekarang sepertinya dapet anak cowok, tapi rasa keperempuananku terusik, jika aku menjadi gender gini. dilain pihak, aku pernah membaca jikalau kmu bisa membesarkan seorang anak perempuan dengan baik maka kamu akan masuk surga. Mengapa Rasul sampai perlu menyampaikan hal ini? apakah itu artinya sejak dulu para orang tua sudah menginginkan anak pria, sbg sebuah keniscayaan. Maka berita ini mungkin bisa sebagai rasa syukur kepada mereka yang mempunyai anak perempuan untuk lebih optimis.
adaapa?adaapa?
637
Commitment is complicated yet can surprisingly you.
And what actually that drive someone trough commitment?
How bizarre is that?
You can cry, defend it with your tears.
Can’t hardly wait to celebrate and make it real. But in same ways you also feel confuse, worry, sad about it.
Everybody asking about your commitment plan, and the funniest thing is, they are more can’t wait to see you entering it, maybe to make you feel the happiness like them, or jump in the same hole? Hehehe…..yes, men are paradox-human.
Why for some people, this “C” thing are sooooo easy. Meet and together forever. That is period! I wonder—do they ever have confusing thing like this?
Can I tawaqal? Should I do that? Masalahnya, apakah aku sudah melakukan yang terbaik? Sehingga sudah pantas bertawakal?
635pm-22apr07-gakbisatidursiangsetelahpulangdariacaraNovadansemalamhabismenangissesenggukankarenamemikirkanini…
caper
Yang kulakukan hanya membaca catatan perjalanan orang2 dari milis Jalansutra, tapi rasanya..wuiiihhh!!! seru banget! Serasa saya jalan2 sendiri kesana. 20 menit baca caper dari Medan-KL-Kuala Trengganu.
Saya tertarik dengan subject itu karena duulu saya pernah ke KL. Ternyata setelah saya baca caper ini, isinya lebih banyak catatan dia waktu ke Redang island-salah satu pulau di sebelah kuala Trengganu.
Jika dilirik dari harganya sih nggak mahal2 amat, masih affordable lah, asal mau menabung :P (kalo urusan yang ini, yakinlah bahwa saya hanya bisa membuat planning, tapi sampai sekarang tak kunjung terealisasi, karena selalu nggak tahan lihat bahu lutju digantung di rak display, ingin rasanya untuk membawanya pulang dan mendekapnya di lemari kos saya, belum lagi sepatu2 imoet yang nggak tahan pengen kuinjak dengan bangga di bawah telapak).
Kata lelakiku, lha wong jalan2 aja kok, asal ada waktu dan duit pasti kita bisa.
Nah, justru itu mas, kita kan susah banget punya waktu dan lebih susah lagi ngumpulin duitnya! Huehehehe…