sore ini saya bertemu dengan Daniel Rembeth, one of the CEO from The Jakarta Post.
pertama kali saya mengenalnya ketika dia datang ke kampus sebagai pembicara di kuliah umum saat dia masih menjabat sebagai Client Service Director di TBWA.
sebuah kebetulan (tak ada kebetulan dalam hidup,kata Quraish Syihab) saya kemudian menjadi salah satu client service di TBWA dan dia sudah tak menjabat disana.
4 tahun setelah pertemuan pertama kami, akhirnya kami bertemu di Starbuck, pada sebuah rabu sore yang sendu saat Rakyat Jakarta sedang bersorak merayakan kemenangan bang kumis (dalam satu cerita di kuliah umum itu, Daniel bercerita saat dia masih di New York, dia membaca sebuah promo bahwa Starbuck menjajikan kopi mereka didatangkan dari sebuah daerah di
Eniwei, kami bicara banyak hal, mulai dari account planner, tentang perjalanan hidupnya; kuliah di arsitek, S2 di jurusan lighting yang tak rampung, belok belajar bisnis, magang di TimesWarner, bekerja di majalah Time 6 tahun, mbangun Acc planning@ Matari, pindah ke BBDOMatari, BBDO Komunika, TBWA dan akhirnya The Jakarta Post.
Tentang Fauzi Bowo yang menang pemilihan, kampus, buku, lukisan, teater.
Bahwa:
· Agency berfungsi sebagai pembantu komunikasi, semua hal yang berhubungan dengan brand serahkan saja pada clientnya, toh mereka yang punya datanya.
· Iklan yang baik, akhirnya adalah iklan yang menjual.
· Agency harus membuat core target audience dari target audience yang diberikan oleh client, dilihat dari index yang berpotensi menjadi konsumen. Jika data quantitatifnya tak ada, kita buat saja kualitatifnya dari observasi, rajin2lah jalan2!, ambil benang merahnya dalam menentukan Audience cangkup nasional. Be spesifik, jika dari Demography-nya sama maka bisa berbeda dalam psychography-nya misal umur.
· Yang bisa membunuh brand adalah brand managernya.
· Jangan dibuat rumit.
· Menariknya advertising adalah kamu bisa jumping around, belajar untuk tidak berpikir linear. Dalam 1 hari yang sama, kamu bisa belajar soal kecap& sambal-misalnya, dengan positioning yang berbeda2.
· tak ada kata terlambat dalam belajar, sabar, waktu kamu masih panjang. "Waktu umur 24 saya gak mikir kerja cuma mikir naik gunung, saya malah kagum sama yang umur 24 sudah mikir kerja. David Ogilvy bikin advertising aja di umurnya yang ke 30, Pak Ken sebelumnya kerja di travel agent".
· Setiap hari selalu ada hal yang menarik, utk jadi pembelajaran.
08.07.07
No comments:
Post a Comment