Berawal dari sebuah keinginan untuk bersosialisasi, meletihkan rasanya terlalu sering menghabiskan akhir pekan di pusat keramaian. Maka untunglah undangan untuk berkumpul tadi malam, bertepatan dengan mudiknya teman shoppingku.
Berangkatlah aku jam 21.oo, alamatnya singkat Mahogani Park b12 no11. berbekal 3 fotocopy-an peta jakarta dan seorang teman yang baik hatinya sebagai teman seperjalanan.
Aku sudah diwanti2 sebelumnya bahwa Bintaro sektor 9 itu jauh sekali. Tapi nafsuku untuk bertemu dengan teman2 mengalahkannya. Dan begitulah nasibku, terjebak dalam sumpeknya udara malam macetnya jakarta.
Berkali-kali kami berhenti bertanya pada orang di jalan, karena ternyata sektor 9 tak ada dalam peta.
Kurang lebih 1,5jam jauhnya rumah Aan dari kosku, begitu sampai sana topik betapa jauh rumahnya (Tangerang man!) menjadi topik pembicaraan yang sangat menarik selama 3 jam kedepan. Gojek sampai pagi, seru banget!
Tadinya kami semua mengejek habis2an soal ini, tapi setelah dipikir2 lagi...kalau kami memutuskan untuk punya rumah di Jakarta pasti juga bakal dipinggiran kayak gitu, atau malah bisa lebih minggir secara harga tanah a’udzubillah mahalnya.
Aan mulai bercerita tentang mahal dan rumitnya mengurus rumah, dia berpesan nek ono duwite jika bisa dari sekarang untuk mencicil rumah, jangan ditunda lagi.
*Aku dan Deon terkikik...kikik...nek ono duwite tho :p
Paginya begitu bangun tidur, cekakak cekikik sambil nglungker-nglungker lan semampir koyok cucian,baca koran, dolanan mobil remote sing bensine entek..sambil nunggu mbak feby selesai masak, trus habis itu makan!!!! Hehe..ya, kami memang “teman dari suami yang tidak tahu diri” (kata ini muncul dari sikap Aan yang begitu bangun tidur langsung nyomot makanan dan bilang kalo ayamnya kurang asin! Edan, gak tahu diri bgt ya? Udah dimasakin, masih nyacat??!)
Karena perjalanan kami masih jauh, setelah makan (yugyas gak makan karena gak terbiasa, untung kutimpali “kami mungkin nggak terbiasa, tapi yang lainnya terbiasa” hehehe....) kami segera bertolak menuju peradaban J
Dijalan, tepatnya di perempatan Pancoran, ada hal yang menarik...pada saat kami berhenti di lampu merah, ada serombongan pemuda yang membawa spanduk yang kurang lebih bertuliskan “kalau tidak sekarang, kapan lagi kita akan berlaku tertib?” sambil berdiri di atas zebra cross, beharap mereka2 yang yang berhenti pada posisi paling depan bisa membaca anjuran tersebut dengan jelas (dan ikhlas?;). Kejutan belum berakhir, ketika kami menuju perempatan selajutnya, berhenti lagi karena lampu merah kulihat sebuah mobil van milik Potlantas terisi penuh dengan speaker- speaker besar, dan mengalunkan lagu milik Agnes Monica “cinta ini kadang2 tak ada logika....”??!!
“mungkin lagunya sengaja dipasang buat reng-reng an selama lampu merah” kata teman saya.
No comments:
Post a Comment