Hari ini hari pencoblosan untuk Daerah Istimewa Jakarta. Dengan 2 kandidatnya Fauzi Bowo dan Adang Daradjatun.
Sebuah kompetisi pemimpin yang kembali berulang, dengan media konvensial dengan cara konvensial juga, bukannya menjadi sarkastik, tapi memang begitulah adanya.
Yang satu bervisi mengatur
Yang kedua sepertinya punya dana lebih banyak, karena punya beberapa titik billboard, yang saya tahu pasti tidak murah untuk menyewanya, tetapi cara-cara curi startnya bahkan ketika dia masih resmi menjabat sebagai PNS wakil gubernur (dia menonaktifkan baru setelah officially mencalonkan diri—sesuai dengan perda) menjadi terkesan (maaf) “rakus”.
Dan keduanya masih memasang semua tanda kampanye itu walau jelas2 durasi untuk melakukannya sudah habis.
Atau memang begitulah wajah kampanye kita?
Baik dengan politik, maupun dengan promo barang dan jasa.
Saya sebagai pelaku didalamnya, mengerti benar bahwa kita harus mencuri perhatian khalayak untuk mengirimkan pesan ditengah gempuran informasi yang crowded ini.
Tapi apakah tidak bisa dilakukan dengan cara2 yang lebih baik ya?
Semua brand seakan ingin berlomba2 menjadi yang paling sering dilihat, paling besar terlihat, paling sering didengar, dan ada disemua tempat. Akibatnya semua permukaan dijadikan media berpromosi.
Saya mengagumi pihak2 yang bisa menemukan media baru yang unkonvensional untuk menyampaikan pesannya.
Tapi lagi2 semuanya berujung pada sebuah kesempatan untuk menggempur konsumen dari semua hal, mulai dari bangun tidur: memencet jam alarm-hadiah dari sebuah bank, memakai sandal dari sebuah hotel, mengeluarkan piring untuk sarapan-hadiah dari sabun colek, sampai di kantor naik lift juga disuguhi dengan film iklan yang tergantung di dinding lift, di dalam ruang meeting membuka buku agenda hadiah dari sebuah majalah, sampai mau tidur juga disuguhi dengan sabun muka gratis hadiah dari odol kesayangannya.
Saya membayangkan dunia tanpa kegiatan promosi.
Tanpa iklan, tanpa direct selling, tanpa sample, tanpa diskon….coba mari kita bayangkan.
Sebuah dunia dimana saya bisa mendengarkan musik tanpa disela oleh spot atau adlibs sebuah dunia dimana saya bisa nonton bioskop tanpa awalan film iklan, sebuah dunia dimana saya akan membeli semuanya sesuai dengan yang saya butuhkan bukan atas impulsive buying saya—at least begitulah impian saya.
Tapi saya tak mungkin bermimpi akan dunia itu, karena saya adalah salah satu manusia yang hidup, bekerja, belajar tentang bagaimana membantu menjual lebih banyak. Jika dunia impian saya tadi ada, trus saya bekerja dimana??
Suatu hari saat saya dan lelakiku berada di sebuah warung soto, di depan pasar burung (yang jaman dulunya adalah sebuah danau buatan) kami berdiskusi tentang branding warung, dia begitu gelisah dan tak nyaman dengan betapa vulgar sebuah brand minuman suplemen membuat warung soto kesayangan kami menjadi kuning dengan taplak2 plastik bertuliskan brand tersebut dan dummy pack segede2 gaban di atas meja makan kami.
Dia berujar, seharusnya tidak perklu sevulgar ini, seharusnya agencynya bisa memperkirakan ukuran meja akan sebesar apa sehingga bisa terlihat manis tanpa menganggu, seharusnya dummy2 itu tak ada, apa fungsinya????
Saya menyetujuinya, karena menurut saya branding ini jauh lebih baik jika dilakukan di toko jamu-misalnya, karena toh minuman ini tidak tersedia di warung ini, jadi objective akhir dari sebuah advertising yaitu “action” tidak bisa terjadi dengan baik di warung ini (masak iya, begitu lihat meja ini, pengunjung mau segopoh2 mencari warung jamu disekitar pasar ini, daripada makan soto sesuai dengan tujuan semula?)
Dia menyetujuinya…(aku lega, sekan berkata dalam hati “hey, im quite smart ya?” seakan berkata dalam hati gak nyangka aku bs berpikir secerdas ini-thanks braino!)
Kami kembali berdiskusi, dia berujar tentang sebuah ide bahwa sebaiknya pengiklan (sebagai yang punya uang), biro iklan (sebagai yang membuat design dan penghambur uang), dan pemerintah daerah (sebagai yang menerima uang) membuat semacam konvensi bahwa mereka semua menyetujui untuk membuat kampanye yang tidak perlu vulgar, yang tidak akan menganggu pemandangan khalayak, yang walau ukuran logonya kecil tapi khalayak tetap bisa melihat dengan jelas, karena semua brand sepakat untuk membuat media promonya sesuai konteks dan tidak menganggu.
Satu pertanyaan saya: Bisakah?
No comments:
Post a Comment